Dakwah 3 Ikhwan
Minggu, 05 Januari 2014
Jilbab Hati atau Jilbab Aurat Dulu?
dakwatuna.com
“Yang penting hatinya berjilbab dulu…baru memakai jilbab beneran”.
“Saya belum berani berjilbab … belum pantas”.
“Sebenarnya sudah pingin sekali berjilbab, Mbak … tapi aku masih seperti ini. Pantaskah?”
Kita mungkin pernah mendengar ungkapan–ungkapan demikian atau yang sejenis. Kemarin, sahabat saya sendiri pun mengatakan hal serupa. Pertanyaan baliknya, “Jika merasa belum pantas mengenakan jilbab, apakah tidak berjilbab akan lebih pantas?”
Merasa diri masih banyak kekurangan, sah–sah saja. Memang lebih baik demikian daripada merasa diri sudah numero uno, sudah good enough sehingga tidak perlu memperbaiki segala yang masih perlu direnovasi. Kewajiban kita adalah introspeksi diri agar kita tidak termasuk orang–orang yang merugi karena hari ini tidak lebih baik dari kemarin. Tapi untuk urusan berjilbab, ceritanya lain.
Menutup aurat adalah perintah Allah SWT terhadap kaum Hawa. Allah memerintahkan agar kaum wanita menjulurkan jilbabnya menutupi seluruh tubuh. Seperti yang termaktub dalam kedua ayat berikut ini:
“Katakanlah kepada wanita-wanita beriman: ‘Hendaklah mereka menahan pandangan mereka, dan memelihara kemaluan mereka, dan janganlah mereka menampakkan perhiasan mereka kecuali yang (biasa) nampak daripadanya.’” (Qs. An-Nuur: 31)
Dan firman-Nya,
“Hai Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang mukmin, ‘Hendaklah mereka menjulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka.’ Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenali, karena itu mereka tidak diganggu. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Qs. Al-Ahzaab: 59)
Perintah untuk berjilbab diturunkan oleh Allah SWT untuk melindungi kaum wanita dari gangguan-gangguan yang dapat merusak kemuliaan dan kehormatannya dalam segala aspek kehidupan mengingat wanita identik dengan makhluk lemah yang berliput keindahan. Sebagaimana yang pernah disabdakan oleh Abul Qasim Muhammad bin ‘Abdullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, yang artinya,
“Wanita itu adalah aurat, jika ia keluar rumah, maka syaithan akan menghiasinya.” (Hadits shahih. Riwayat Tirmidzi (no. 1173), Ibnu Khuzaimah (III/95) dan ath-Thabrani dalam Mu’jamul Kabiir (no. 10115), dari Shahabat ‘Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhuma)
Ketika krenteg dalam hati untuk memakai jilbab sudah muncul, alangkah baiknya jika segera diwujudkan. Menunggu menjilbabi hati, akan sampai kapan? Adakah standard khusus hingga seperti apa hati kita lantas kita sudah disebut layak untuk berjilbab? Sampai hati kita benar–benar seputih salju? Mungkinkah? Malaikat namanya jika tidak berbuat dosa sama sekali. Sedangkan kita, hanya manusia biasa yang melakukan amar ma’ruf, tapi juga melakukan kesalahan dan dosa.
Menjilbabi hati beranalogi dengan khusyu’ dalam shalat. Kita harus khusyu’ ketika mengerjakan shalat. Melupakan segala hal yang bersifat duniawi dan hanya mengingat Allah SWT semata. Tentu saja, sangat sulit dilakukan. Tapi apakah lantas kita berhenti shalat karena merasa belum bisa khusyu? Sebaliknya, kita terus mengerjakan shalat dan sedikit demi sedikit terus belajar agar lebih khusyu’. Jika kita berhenti mengerjakan shalat, maka kita tidak akan tahu seperti apa rasanya khusyu’. Demikian juga hati, semestinya tidak menjadi penghalang ketika kita ingin mengenakan jilbab. Alangkah baiknya jika mulai hari ini kita kenakan jilbab, lalu seterusnya sedikit demi sedikit kita belajar memperbaiki hati kita.
Menjilbabi aurat, sebenarnya adalah menjilbabi hati juga. Mempercantik aurat sama halnya dengan mempercantik hati kita. Saya katakan demikian sebab memakai jilbab adalah perintah paten dari Illahi Rabbi. Tidak bisa ditawar-tawab lagi kecuali bagi wanita–wanita yang tidak terkena kewajiban memakainya. Membayangkan gerahnya berjilbab di saat udara panas, meninggalkan baju–baju bagus yang dimiliki untuk diganti dengan busana muslimah, menutupi rambut dengan selembar jalabib padahal biasanya dipuji–puji orang karena indah berkilau, menutupi leher jenjang yang biasanya menjadi daya tarik tersendiri. Duhh…beratnya. Ketika kita bismillaah memantabkan niat untuk berjilbab, meninggalkan semua yang memperberat langkah untuk berjilbab, artinya kita menangkan satu peperangan besar melawan diri sendiri. Maka bertambah cantiklah hati kita karena sekali lagi kita kalahkan hawa nafsu dan menggantinya dengan bi tho’atillaah.
Jadi, manakah yang didahulukan? Menjilbabi hati atau menjilbabi aurat dulu? Jawabnya mari kita lakukan keduanya bersama–sama sebab ketika kita menjilbabi aurat sebenarnya kita telah satu langkah menjilbabi hati kita.
Berjilbab bukan hanya sebuah identitas fisik sebagai seorang muslimah. Menutup aurat adalah perintah wajib yang merupakan bukti ketaatan terhadap perintah Allah SWT dan Rasul-Nya sebagaimana kewajiban shalat, puasa, haji bagi yang mampu, dan ibadah-ibadah lainnya. Ketika kita ingin menjadi muslimah yang kaaffah, maka sudah seharusnya kita terketuk untuk melaksanakan perintah-Nya, bukan?
Wallahu a’lam bisshawab.
Di Balik Jilbab Seorang Muslimah
dakwatuna.com
Dahulu, masyarakat memandang sebuah jilbab yang dikenakan seorang wanita adalah hal yang belum lazim. Bisa dikatakan jumlah wanita berjilbab kala itu masih minim. Beberapa pandangan tertentu dari masyarakat terhadap seseorang yang mengenakan jilbab, membuat sebagian besar wanita yang beragama Islam masih enggan atau merasa belum siap mengenakan penutup aurat itu. Namun, sekarang zaman telah berubah. Kini, berjilbab tengah digandrungi oleh masyarakat. Jilbab seakan menjadi gaya berbusana (fashion) tersendiri yang digemari.
Pada dasarnya, berjilbab dan menutup aurat memang sudah menjadi kewajiban bagi setiap muslimah. Seperti tercantum dalam Al-Qur’an Surat Al-Ahzab ayat 59:
“Hai Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang mukmin: “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka”. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”
Dari Surat Al-Ahzab tersebut, kita sebagai wanita memang sudah seharusnya mengenakan jilbab dan menutup aurat. Dan, bolehlah kita mengucap syukur dengan fakta bahwa dewasa ini sudah banyak kita jumpai para wanita mengenakan jilbab, dari anak-anak, remaja, sampai ibu-ibu.
Namun, yang perlu kita perhatikan adalah pada masa kini esensi dari berjilbab seakan sudah memudar. Jilbab yang seharusnya difungsikan sebagai penutup aurat, kini telah menjadi gaya berbusana (fashion) bagi para wanita. Tujuan mereka mengenakan jilbab bukanlah lagi sebagai penutup aurat, melainkan sebagai suatu cara untuk terlihat lebih modis dan lebih menarik.
Model berjilbab pun kini sudah bermacam-macam. Jilbab tak lagi dipandang sebagai kain, bahan, atau semacamnya yang menutupi aurat, terutama bagian dada. Jilbab yang seharusnya menjuntai ke bawah menutupi dada, kini malah berbelit-belit di kepala dan menyisakan sedikit bagian yang menutupi dada. Jilbab modis, begitu orang-orang menyebutnya.
Begitu pun dengan pakaian. Sudah banyak kita menemukan pemandangan di mana terdapat wanita berjilbab mengenakan pakaian yang ketat. Lekuk tubuhnya pun masih jelas terlihat. ‘Mengundang’ kaum adam untuk melemparkan pandangannya. Mereka seakan sudah tidak mempedulikan hal tersebut lagi. Yang terpenting adalah bagaimana mereka terlihat lebih modis dengan gaya berbusana dan jilbab model terbaru, serta bagaimana mereka bisa tampil menarik di muka umum.
Jika banyak wanita muslimah yang mengaku berjilbab namun masih memperlihatkan aurat-aurat—dengan menutupi hanya sekadarnya dan memakai pakaian-pakaian yang ketat—apa bedanya dengan mereka yang belum berjilbab? Memang, setidaknya mereka yang mengenakan jilbab modis tersebut sudah melaksanakan perintah Allah SWT, tapi apakah cukup hanya sekadar menutup aurat? Jika kita memang muslimah yang beriman dan bertakwa, sudah barang tentu kita menjalankan perintah Allah SWT sepenuhnya, bukan setengah-setengah.
Lagipula, bukankah sudah disebutkan dalam Al-Qur’an pada QS An-Nuur ayat 31:
“Katakanlah kepada wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke dadanya…”
Sebagai wanita yang beriman, seharusnya kita menyadari bahwa jilbab tak seharusnya dijadikan sebagai ‘perhiasan’. Jilbab bukanlah untuk menarik perhatian, melainkan menjaga pandangan para kaum adam terhadap kita, para wanita.
Oleh sebab itu, alangkah baiknya jika kita, para wanita muslimah, membenahi diri mulai dari sekarang. Mari, renungkan kembali alasan kita berjilbab dan menutup aurat. Janganlah semata-mata demi penampilan kita memilih untuk berjilbab. Berjilbablah untuk menata diri menjadi pribadi yang lebih baik, berjilbablah untuk menjaga akhlak, dan berjilbablah hanya karena Allah SWT, bukan karena alasan yang lain. Semoga dengan adanya usaha perbaikan diri, kita termasuk golongan orang-orang yang beruntung di dunia maupun di akhirat.
Redaktur: Hendra
Sumber: http://www.dakwatuna.com/2014/01/05/44310/di-balik-jilbab-seorang-muslimah/#ixzz2pXXXUPZ2
Follow us: @dakwatuna on Twitter | dakwatunacom on Facebook
Sumber: http://www.dakwatuna.com/2014/01/05/44310/di-balik-jilbab-seorang-muslimah/#ixzz2pXXXUPZ2
Follow us: @dakwatuna on Twitter | dakwatunacom on Facebook
Jilbab Pakaian Taqwa
dakwatuna.com
Perputaran roda kehidupan meninggalkan pergeseran sosial budaya yang berlaku dalam masyarakat. Kaum feminisme dan liberalisme bersatu membuat propaganda pemikiran perempuan untuk dapat hidup bebas tanpa batas. Indonesia dengan penduduk mayoritas muslim diiming-imingi dengan pemikiran Barat atas nama bias gender.
Islam oleh kaum feminisme dianggap agama yang mengekang kebebasan perempuan serta pembagian yang tidak adil terhadap hak waris, pernikahan, perwalian, perceraian, poligami dan hak berekspresi mengenakan pakaian. Padahal, saat ditelisik lebih jauh justru Islam hadir untuk memuliakan kaum perempuan dengan berbagai aturan yang ada.
Segala aturan yang ditetapkan Allah bukan untuk memberatkan manusia, melainkan untuk mempermudah urusan. Sebagai contoh jika harta waris sama antara laki-laki dan perempuan, maka kaum laki-laki terzhalimi karena ia juga menanggung beban hidup istri dan anak-anaknya. Sedangkan hak waris perempuan 100% untuk kepentingan dirinya sendiri.
Pada sisi yang lain, model berpakaian menjadi salah satu tameng yang digencarkan kaum feminisme dengan kebebasan mengumbar aurat. Ibarat sebuah intan, semakin bagus kualitas barang maka sang pemilik akan semakin hati-hati merawatnya. Tidak mungkin intan dibuang di tong sampah, sang pemilik tentu akan merawat dan menyimpan di tempat yang aman.
Logika berjilbab
Allah membuat aturan untuk manusia dengan pandangan kasih sayang, sedangkan manusia yang tidak bersyukur memandang aturan tersebut dengan pandangan nafsu syahwat. Hanya orang- orang yang beriman yang mampu berfikir dan menerima bahwa dengan menutup aurat kehormatan lebih terjaga.
Menutup aurat bukan berarti menanggalkan budaya modis dalam berekspresi. Perkembangan pemikiran para desainer jilbab menawarkan begitu banyak pakaian modis yang bisa tampil cantik. Namun tetap ada batasan bagi perempuan dalam berpakaian. Karena pakaian muslimah tidak hanya cukup menutup aurat, namun ada esensi yang akan dicapai.
Kewajiban menutup aurat berlaku bagi perempuan dan laki-laki. Hanya saja batasan di antara keduanya berbeda. Aurat laki-laki dari pusat hingga lutut, sedangkan perempuan seluruh anggota tubuh kecuali muka dan telapak tangan. Pun aurat tersebut bukan tidak boleh dilihat oleh semua orang, hanya segelintir orang saja yang tidak boleh melihat yaitu yang bukan muhrim
Muhrim maksudnya adalah yang termaktub dalam Q.S. An Nur ayat 31 yaitu suami, ayah, mertua laki-laki, anak laki-laki, anak laki-laki suami jika beda istri, saudara kandung, keponakan laki-laki, sesama muslimah, anak – anak yang belum tahu aurat perempuan dan hamba sahaya pada zaman dulu. Jadi tidak semua laki-laki tidak boleh melihat aurat perempuan.
Sehingga, seorang muslimah tidak harus mengenakan jilbab di rumah selama yang ada di rumah adalah yang semuhrim. Berbeda saat ada tamu laki-laki atau sepupu yang bertamu, seorang muslimah harus menutup auratnya. Jika ia tidak menutup aurat, maka selama ada laki-laki yang bukan muhrim memandang aurat perempuan, selama itu pula dosa terus mengalir.
Menutup aurat hukumnya wajib, bukan sunat. Sehingga jika tidak dilakukan akan mendapat dosa. Dan jika dilakukan mendapat pahala. Anekdot yang dipahami masyarakat adalah jika mengenakan jilbab tidak boleh meninggalkan shalat, memfitnah dan bentuk dosa lain. Artinya, masyarakat memandang lebih bagus buka aurat asalkan perilaku baik. Dari pada mengenakan jilbab tapi perilaku bejat.
Padahal, dengan berjilbab justru akan memotivasi agar berperilaku baik. Sehingga jilbab yang dikenakan muslimah merupakan pendorong dan penyebab untuk melakukan kebaikan-kebaikan yang lain.
Kalaupun ada seorang muslimah yang memakai jilbab namun perilakunya tidak baik, maka selama ia menutup aurat, ia terbebas dari dosa dan mendapat pahala. Sedangkan perilaku buruknya bernilai dosa. Kondisi ini sebagai cerminan bahwa manusia adalah makhluk lemah yang perlu selalu minta bimbingan kepada Allah swt.
Apabila ada seorang muslimah yang mengenakan jilbab namun perilaku sangat jauh dari tuntunan Islam, sepengamatan penulis orang-orang seperti ini berada di persimpangan jalan. Seiring berjalannya waktu, jika hati muslimah tersebut condong pada kebaikan maka perlahan perilakunya membaik. Sebaliknya jika hatinya condong kepada keburukan maka ia akan menanggalkan jilbabnya.
Sebagaimana minyak dan air tidak akan pernah bersatu dalam satu wadah. Begitu pula dengan kebaikan dan keburukan. Sesungguhnya menutup aurat ringan dilakukan bagi yang menyadari bahwa diri perempuan adalah perhiasan dan barang mahal yang ditak bisa diobral. Sedangkan berat bagi yang mendahulukan nafsu syahwat sebagai Tuhan.
Menutup yang Syar’i
Perintah menutup aurat terdapat dalam Q. S. An Nur ayat 31 ” Dan katakanlah kepada para perempuan beriman, agar mereka menjaga pandangannya dan memelihara kemaluannya, dan janganlah menampakkan perhiasan (auratnya) kecuali yang bisa terlihat….”
Para desainer pakaian tidak semua yang memperhatikan esensi dari jilbab yang digunakan yaitu untuk melindungi dan mudah dikenal. Melainkan untuk bisnis yang terkadang mengenyampingkan tujuan awal berjilbab, yaitu menutup aurat.
Pakaian boleh modis asalkan memenuhi kriteria agar tetap dianggap Allah menutup aurat, yaitu tebal agar tidak menerawang, tidak membentuk lekuk tubuh dan menutupi seluruh aurat.
Batasan tersebut agar muslimah tidak termasuk dalam hadits berikut “Sesungguhnya sebilangan ahli neraka ialah perempuan-perempuan yang berpakaian tapi telanjang yang condong kepada maksiat dan menarik orang lain untuk melakukan maksiat. Mereka tidak akan masuk surga dan tidak akan mencium baunya“ (HR. Bukhari dan Muslim)
Kesalahan dalam menutup aurat yang biasanya terjadi adalah jilbab yang digunakan berukuran kecil sehingga tetap nampak bentuk dada perempuan, baik saat dilihat dari depan atau dari samping. Kemudian tidak mengenakan kaus kaki dan manset untuk melindungi pergelangan tangan.
Baju yang digunakan muslimah hendaknya menjulur hingga di bawah pinggul atau sampai paha, agar bentuk bokong tidak terlihat. Selain itu baju dan rok yang digunakan harus longgar, karena jika sempit akan membentuk tubuh.
Dari sisi kesehatan, perempuan yang menutup aurat akan terlindungi dari terik matahari. Kulit pun menjadi putih bersih dan tidak kering. Dengan pakaian yang longgar, sirkulasi angin dan darah akan lebih lancar dibandingkan pakaian jean yang ketat.
Pakaian seksi hanya akan menyiksa perempuan. Bagaimana tidak? Saat ingin duduk tangan sibuk menutupi bokong atau paha yang terbuka, sesekali menutupi dada saat ingin jongkok. Akhirnya, fungsi tangan tidak bebas beraktivitas. Tidak hanya itu, perasaan lekuk tubuh yang dilihat laki-laki ganjen juga akan merusak konsentrasi dan menurunkan produktivitas.
Sedangkan perempuan yang berpakaian menutup aurat dengan benar, ia akan bebas berlompat, lari, jongkok, duduk maupun berbaring. Karena pakaian yang dikenakan longgar dan seluruh auratnya telah tertutupi, sehingga bergerak seperti apapun tidak akan tersingkap. Untuk menjadi lebih shalihah perempuan membutuhkan lingkungan yang kondusif, teman yang baik dan jalan menuju surga membutuhkan proses belajar yang berkepanjangan.
Yang paling penting bagi perempuan yang dengan benar menutup aurat adalah, ia dipandang mulia tidak hanya di hadapan manusia, terlebih di hadapan Allah. “Hai anak Adam, sesungguhnya Kami telah menurunkan kepadamu pakaian untuk menutup auratmu dan pakaian indah untuk perhiasan. Dan pakaian takwa itulah yang paling baik. Yang demikian itu adalah sebahagian dari tanda-tanda kekuasaan Allah, mudah-mudahan mereka selalu ingat.” (QS. Al-A’raaf: 26).
Pakaian taqwa yang dikenakan perempuan shalihah mencerminkan dirinya sebagai simbol perhiasan dunia akhirat. Bahkan bidadari surga cemburu padanya. Di akhirat kelak, ia akan menjadi ratu, bidadari adalah dayang -dayang mereka.
Lalu mengapa perempuan tidak menahan diri sejenak dan bersabar menahan nafsu? Bukankah Allah tidak pernah ingkar janji dan negeri akhirat itu lebih kekal? Allah menunjuki kita jalan ke surga, dan setan selalu menggiring kita menuju neraka. Hidup adalah pilihan.
Wallahu’Alam…
Redaktur: Lurita Putri Permatasari
Sumber: http://www.dakwatuna.com/2013/04/03/30449/jilbab-pakaian-taqwa/#ixzz2pXWwWLVW
Follow us: @dakwatuna on Twitter | dakwatunacom on Facebook
Sumber: http://www.dakwatuna.com/2013/04/03/30449/jilbab-pakaian-taqwa/#ixzz2pXWwWLVW
Follow us: @dakwatuna on Twitter | dakwatunacom on Facebook
ODOJ Itu Ada di Mana-Mana
dakwatuna.com
Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
Semoga Allah SWT selalu memberikan cahaya kepada kita semua di tengah semakin gelapnya dunia ini. Cahaya itu bahkan bukan hanya bermanfaat bagi diri kita sendiri akan tetapi juga mampu menerangi orang-orang yang berada di sekitar kita. Bahkan cahaya yang terpancar tersebut mampu menghidupkan cahaya pada diri orang lain atas izin Allah SWT.
Pertama saya ingin sampaikan bahwa saya merupakan satu dari banyak orang yang menganggap program ODOJ (One Day One Juz, red) ini adalah program yang luar biasa. Karena ia ibarat sebuah gelombang baru yang mampu memberikan dorongan hingga setiap insan terhanyut dalam kenikmatan bertilawah dan dengan saling memotivasi untuk berfastabiqul khairaat…
Ada hal menarik yang saya alami. Tepatnya hari rabu 1 Januari 2014 di pagi hari saya bersama rekan berolahraga mengitari kampus. Di kampus Unmul terkenal dengan arena jogging track-nya yang ramai dijejali mahasiswa. Karena bertepatan liburan pra-ujian dan awal tahun, kampus pun sepi. Ketika kami menyusuri arena jogging track tepatnya di belakang kampus FKIP, terdengar sayup-sayup suara lantunan ayat suci Al-Qur’an dari dalam sebuah gubuk kecil di tepi sungai Karang Mumus (nama salah satu sungai di Kota Samarinda).
Subhanallah… ketika itu waktu menunjukkan pukul 06.45 WITA. Terasa bergetar hati ini, suaranya merdu terdengar syahdu ditambah suasana kampus yang tenang dan sepi menjadikan suasana di kala itu tenang dan tenteram. Wallahu’alam apakah sang pemilik gubuk ini tergabung dalam ODOJ atau tidak. Namun yang terpenting semoga ini menjadi satu semangat bagi kita semua untuk lebih mesra lagi dengan himpunan ayat-ayat cinta dari Allah SWT. Kapan pun dan di manapun kita berada, Al-Qur’an menjadi santapan terlezat bagi pribadi-pribadi perindu keabadian surga, insya Allah… Aamiin.
Dikatakan kepada Shahibul Quran (di akhirat): “Bacalah Al-Quran dan naiklah ke surga serta tartilkanlah (bacaanmu) sebagai mana engkau tartilkan sewaktu di dunia. Sesungguhnya kedudukan dan tempat tinggalmu (di surga) berdasarkan akhir ayat yang engkau baca”. (HR. Imam Tirmidzi, Abu Dawud, dari Abdillah bin Amru bin Ash Radhiyallahu ‘anhuma)
Spirit ODOJ, One Day One Juz… Allahu Akbar…!!
Redaktur: Hendra
Rabu, 01 Januari 2014
Demba Ba: Semoga Bertemu di Surga, Insya Allah
dakwatuna.com – London. Detik-detik pergantian tahun 2013/2014 menjadi saat yang paling dinantikan oleh masyarakat di seluruh pelosok bumi. Pesta kembang api dan tiupan terompet menjadi simbol menandai pergantian tahun tersebut.
Namun tidak demikian dengan Demba Ba. Penyerang Chelsea yang terkenal dengan selebrasi sujud ini memaknai pergantian tahun sebagai saat yang tepat untuk muhasabah dan introspeksi perjalanan hidup selama tahun 2013.
Tak lupa Ba juga berdoa untuk seluruh umat manusia agar Yang Maha Kuasa mempertemukan mereka di surga.
“Kata-kata terakhir saya untuk tahun 2013! Semoga bertemu dengan kalian di Surga, insya Allah,” demikian ujar Ba lewat akun Twitter, @dembabafoot.
Demba Ba memang terkenal sebagai seorang pesepakbola muslim yang taat yang tidak pernah meninggalkan kewajiban-kewajiban sebagai seorang muslim. Bahkan Ba kerap kali terlihat mensyukuri setiap lesakkan gol yang dibuat dengan selebrasi sujudnya. (sbb/dakwatuna)
Karena Pemuda tidak Lagi Remaja
dakwatuna.com - “Sesungguhnya Tuhanmu kagum kepada seorang pemuda yang tidak memiliki sifat shabwah (kejahilan dan kekanak-kanakan)” (Silsilah Al-Ahadits Ash-Shohihah 1225; Arbain Ruiyah No.8)
Pakar Sosiologi Kenneth Kenniston mendefinisikan masa muda (youth) adalah periode transisi antara masa remaja dan masa dewasa yang merupakan masa perpanjangan kondisi ekonomi dan pribadi yang sementara. Lebih jauh lagi Kenniston berpendapat bahwa kaum muda berbeda dengan remaja karena adanya perjuangan antara membangun pribadi yang mandiri dan menjadi terlibat secara sosial, berlawanan dengan perjuangan remaja untuk mendefinisikan dirinya.
Jadi remaja dan pemuda itu beda. Itu sebabnya Psikolog University of Texas at Dallas, John W. Santrock, dalam bukunya Life-Span Development membedakan antara remaja dan pemuda. Remaja merupakan transisi antara masa anak-anak dan masa dewasa. Dan pemuda merupakan masa dewasa awal.
Jika kita lihat dari pendapat Kenneth Kenniston di atas maka dapat disimpulkan:
- Pemuda: adanya perjuangan antara membangun pribadi yang mandiri dan menjadi terlibat secara sosial.
- Remaja: usaha untuk mendefinisikan dirinya.
Dari pendapat Kenniston itu juga kita dapat melihat bahwa yang namanya pemuda adalah orang yang melakukan perjuangan untuk membangun pribadi yang mandiri dan menjadi terlibat secara sosial.
Pertama: membangun pribadi yang mandiri. Mandiri dalam hal apa? Sedikitnya ada dua kemandirian yang perlu mulai kita usahakan di saat memasuki masa muda: kemandirian dalam membuat keputusan dan kemandirian ekonomi.
Ketika mulai memasuki masa dewasa, sudah saatnya kita mulai bisa membuat keputusan sendiri terhadap masalah-masalah yang kita hadapi. Ini menuntut kita untuk berfikir lebih dewasa. Biarpun demikian, selama masih berada dalam asuhan orang tua, kita harus tetap bermusyawarah dengan mereka. Selain itu juga, sebagai seorang pemuda, ia harus mulai berusaha untuk mandiri dalam hal ekonomi.
Kedua: menjadi terlibat secara sosial. Ketika memasuki masa muda, sudah seharusnya seorang pemuda itu mulai terlibat secara sosial. Ini bukan masalah pergaulannya yang semakin luas. Tidak! Tapi ini lebih pada kesadaran dalam dirinya bahwa ia adalah bagian dari lingkungan sosialnya.
Di kampung saya sering sekali ada Sayan, yaitu bekerja bersama-sama untuk tetangga yang minta bantuan dan itu tidak dibayar. Misalnya ketika menaikkan genteng untuk rumahnya. Karena membutuhkan tenaga banyak maka minta bantuan ke para tetangga. Atau contoh lain ketika kerja bakti membangun masjid, mushalla, dan sekolah. Siapakah yang akan dilibatkan dalam kerja-kerja sosial itu? Umumnya adalah bapak-bapak. Dan sebagian kecil pemuda. Remaja? Hampir tidak ada. Karena memang mereka belum waktunya untuk ikut itu. Inilah sedikit penjelasan mengenai terlibat secara sosial.
Dalam Delapan Mata Air Kecemerlangan-nya, Anis Matta menjelaskan bahwa untuk merekonstruksi ulang manusia Muslim dapat melalui tiga tangga kehidupan: Afiliasi, partisipasi, dan kontribusi. Afiliasi adalah tangga awal di mana seorang bergabung dan memperbarui kembali komitmennya kepada Islam; menjadikan Islam sebagai basis identitas yang membentuk paradigma, mentalitas dan karakternya.
Partisipasi adalah tangga kedua di mana seorang Muslim telah mencapai kesempurnaan pribadinya, dari mana kemudian ia melebur ke masyarakat, menyatu dan bersinergi dengan mereka, guna mendistribusikan keshalihannya.
Tangga terakhir adalah kontribusi, di mana seorang Muslim yang telah terintegrasi dengan komunitas dan lingkungannya berusaha meningkatkan efisiensi dan efektivitas hidupnya. Bahwa setiap orang yang berpartisipasi itu benar-benar dapat mencapai tingkat paling optimal dalam memberikan kontribusi kepada Islam.
Kalau boleh mengkiaskan, maka bagi saya masa remaja adalah masa untuk melakukan afiliasi, dan ketika mulai memasuki masa muda — selain berafiliasi — adalah saatnya untuk berpartisipasi untuk kemudian berkontribusi.
Akhirnya, pemuda bukanlah orang yang sibuk dengan dirinya sendiri. Sebab, yang demikian itu adalah apa yang dilakukan oleh para remaja. Pemuda adalah mereka yang mulai berpartisipasi untuk kemudian berkontribusi. Ia adalah orang yang berusaha membangun kemandirian dan keunggulan dirinya. Dengan apa yang dimilikinya itulah ia kemudian berperan aktif dalam lingkungan sosialnya, dan berkontribusi terhadap umat. Maka ia pun menjadi sosok yang dirindu umat.
Menjadi Muslimah ‘Kelas Tinggi’
dakwatuna.com - Banyak yang mengira bahwa perempuan ‘kelas tinggi’ adalah mereka yang memiliki wajah cantik dan berpenampilan mewah. Nah, yang seperti itu sih sudah banyak! Perempuan kasar dan tak punya adab, itu semakin banyak di dunia! Sekarang ini, yang sulit didapat dan ‘mahal’ adalah perempuan shalihah yang santun dan berakhlak mulia.
Perempuan bernilai tinggi di mata Allah adalah yang taat kepada-Nya dan Rasul-Nya, yang menjaga kehormatannya dan berakhlak mulia. Namun, mengapa sebagian muslim seolah tak mengenal ‘akhlak mulia’? Padahal, Rasulullah Shallallahu’alayhi wa sallam telah menyatakan misi utama beliau ketika diutus sebagai Rasul oleh Allah Ta’ala adalah untuk menyempurnakan akhlak manusia? “Sesungguhnya aku diutus (hanya) untuk menyempurnakan akhlak yang mulia.” (Imam Malik, al-Muwattha’)
Sebagai manusia tak pernah luput dari kesalahan dan dosa. Tetapi, manusia memiliki kesempatan untuk menjadi lebih baik dari sebelumnya. Menjadi muslimah kelas tinggi tentu harus bertahap, perlahan mulai membiasakan untuk jujur, menjaga shalatnya, rajin membaca Al-Qur’an, sabar, malu bermaksiat, murah hati dan mudah bersedekah, lemah lembut, rendah hati, adil, mudah memaafkan, bersikap amanah, sederhana, menundukkan pandangan, mudah dan murah senyum, dan tentunya masih banyak lagi perilaku baik lainnya.
Muslimah santun hendaknya selalu menjaga aurat. Wanita itu adalah aurat, sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu’alayhi wa sallam diriwayatkan dari Bazzar dan At-Tirmidzi, “Sesungguhnya wanita itu adalah aurat, setiap kali mereka keluar, syaitan akan memperhatikannya.” Jadi, aurat itu ialah suatu –yang tersingkap, terbuka—maka terasa malu seperti aib seseorang, yang dapat menurunkan harga dirinya. Karena itulah aurat (aibnya) wajib ditutup dan dijaga untuk terpelihara harga dirinya.
Batasan aurat wanita adalah seluruh anggota tubuhnya kecuali wajah dan kedua telapak tangannya. Hal ini berlandaskan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala: “Dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) Nampak dari padanya.” (QS. An-Nuur [24]: 31). Ada pula sabda Shallallahu’alayhi wa sallam kepada Asma’ binti Abu Bakar, “Wahai Asma’ sesungguhnya seorang wanita itu apabila telah baligh (haid) maka tidak boleh baginya menampakkan tubuhnya kecuali ini dan ini, seraya menunjukkan wajah dan telapak tangannya.” (HR. Abu Dawud)
Beberapa syarat keluar rumah bagi para wanita. Pertama, adanya izin dari orang tuanya atau suaminya. Kedua, untuk kebaikan, seperti menuntut ilmu dan beramar ma’ruf nahi munkar. Ketiga, senantiasa menutup aurat dan menjaga adab Islami, seperti firman Allah Subhanahu wa Ta’ala: ‘Wahai Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu dan putri-putrimu serta wanita-wanitanya kaum mu’minin, hendaklah mereka mengulurkan jilbab-jilbab mereka di atas tubuh mereka. Yang demikian itu lebih pantas bagi mereka untuk dikenali (sebagai wanita merdeka dan wanita baik-baik) sehingga mereka tidak diganggu…” (QS. Al-Ahzab (33): 59). Adapun adab-adab Islam yang harus dijaga, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: “Dan janganlah kamu berhiaskan bertingkah laku seperti orang-orang jahiliyah yang dahulu.” (QS. Al-Ahzab (33): 33)
Ternyata untuk menjadi muslimah kelas tinggi selalu berkaitan dengan aurat, ketaatan dan akhlak mulia. Oleh karena itu, jangan pernah bosan atau berhenti berusaha menjadi muslimah kelas tinggi. Segala sesuatu yang kita lakukan hendaknya selalu mengingat Allah dan kematian, karena dengan begitu kita lebih hati-hati dalam bertindak, berkata, dan bersikap. Selalu ingatlah dengan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala: “Barangsiapa yang mengerjakan amal shalih, baik laki-laki maupun wanita sedang ia orang yang beriman maka mereka itu masuk ke dalam surga dan mereka tidak dizhalimi sedikitpun.” (QS. An-Nisa (4): 124).
Redaktur: Hendra
Langganan:
Komentar (Atom)







