Copyright © 2012 eramuslim.com
Media Islam Rujukan
Eramuslim. Oleh
Mulyawati M. Yasin *
Kembali masyarakat Indonesia antusias akan merayakan datangnya tahun
baru yang akan menjelang. Anak-anak kecil terihat gembira ria dengan
teman-temannya sambil membawa dan meniup terompet. Mereka tidak tahu
bahwa itu bukan dari ajaran agama Islam yang mereka peluk, tapi dari
agama lain. Mereka tidak tahu, dan mereka hanya ikut-ikutan.
Pemandangan ini ada di jalan-jalan MHT (Muh Husni Thamrin) alias
gang-gang di perkampungan yang makin terasa sempit dan bising.Lain
halnya dengan anak-anak kecil yang orang tuanya punya kelebihan duit,
mereka telah ramai di mal-mal pusat belanja dan tempat hiburan yang
tersebar di mana-mana.
Orang-orang dewasa baik laki-laki maupun ibu-ibu sibuk dengan
menyiapkan apa yang akan dibakar pada malam pergantian tahun. Ada yang
akan membakar ayam, ada yang akan membakar ikan, dan ada juga yang akan
membakar jagung. Pedagang petasan dan kembang api pun diserbu para
pembeli, baik anak-anak maupun orang dewasa.
Bagi yang punya kendaraan, mereka bersiap pergi keluar dari rumahnya
untuk merayakan tahun baru atau merayakan pergantian tahun. Ada yang
pergi ke puncak, padahal ribuan kendaraa telah menuju ke sana. Ada juga
ribuan kendaraan mendatangi tempat-tempat keramaian. Tahun ini ada 155
tempat hiburan di seluruh Jakarta yang siap merayakan tahun baru. Dan
aneka tempat maksiat siap menampung pengunjung yang akan bermaksiat dan
hura-hura di malam tahun baru.
Lain hal lagi dengan anak-anak mudanya. Mereka telah berlalu dari
sore dengan teman atau pasangannya mendatangi tempat-tempat hiburan dan
tempat maksiat yang dikemas seindah mungkin. Sungguh suatu pemandangan
yang mengkhawatirkan dan menyesakkan dada bagi manusia yang masih bisa
berfikir dan bertakwa.
Ada warna lain dalam perayaan tahun baru ini. Yaitu para Habaib dan
para Ustadz (?) dan jamaahnya mereka menggelar apa yang mereka sebut
dzikir bersama di beberapa tempat. Konon niatannya untuk menandingi
kemaksiatan di malam tahun baru. Tapi kalau kita bisa sedikit saja
berfikir secara rasional, apakah dengan bercampur aduknya antara
laki-laki dan wanita yang hadir di acara yang disebut dzikir atau apalah
namanya itu, di malam hari yang bahkan kemungkinan sampai larut malam
itu pun namanya bukan maksiat? Apa bisa dibenarkan jika maksiat dilawan
dengan bid’ah dan maksiat cara lain? (Laa taghdhob! Jangan marah!)
Sepuluh menit lagi waktu akan menunjukkan pukul dua puluh empat yang
mereka sebut jam nol nol. Petasan sudah terdengar bersahutan tanpa
putus. Suasana mulai mencekam. Mereka yang merayakan pun bergembira ria,
tertawa-tawa. Jalan-jalan raya telah penuh sesak oleh kendaraan mobil
dan sepeda motor. Di gang-gang MHT, orang-orang keluar dari rumahnya
ramai memenuhi jalan-jalan kecil, mereka bergerombol satu keluarga atau
ada yang bergabung dengan tetangga lain, suasana bising dengan suara
orang dan suara terompet saling bersahutan. Hanya satu atau dua rumah
yang penghuninya diam di dalam rumah tanpa ikut-ikutan meramaikan
suasana. Suara petasan bersahutan riuh rendah, terus bergolak. Bukan
saja dari kejauhan, suasana ini begitu memuncak dari seluruh arah,
seluruh masyarakat Jakarta, mungkin di kota-kota lain pun ada yang ikut
latah, kecuali yang berani terus terang bahwa Pemdanya tidak punya
anggaran.
Saya acungi jempol, Pemda yang punya nyali dan jati diri seperti itu.
Berani malawan arus, dan tidak mau untuk apa yang disebut merayakan
tahun baru. Seharusnya semuanya seperti itu! Tidak usah ikut-ikutan
merayakan tahun baru yang berasal dari agama kaum kafir. Toh bangsa ini
bukan bangsa kafir, bahkan berjuang melawan penjajah kafir agar merdeka.
Demikian sejarahnya!
Kenapa sekarang yang diberi amanah oleh para pejuang yang melawan
bangsa penjajah kafir itu justru sikapnya membebek pada yang kafir? Maka
saya acungi jempol Pemda yang tidak mau ikut-ikutan bertahun baru.
Bagus sekali itu. Biar yang masih punya nalar waras mau berfikir.
Sebagaimana tidak diadakannya perayaan tahun baru setelah terjadi
bencana besar tsunami Aceh Desember 2004. Tampaknya hura-hura tanpa guna
itu hanya prei satu kali saat itu yakni tahun baru 2005.
Kini walau baru saja terjadi bencana dan musibah di mana-mana,
hura-hura tahun baru pun kambuh lagi. Bahkan tempat maksiat yang dipoles
dengan sebutan ‘tempat hiburan’ diizinkan buka sampai jam 4 pagi.
Na’udzubillaahi min dzalik! Kami berlindung kepada Allah dari hal yang demikian.
Di tengah malam ini mereka menikmati suara gemuruh letusan petasan
dan terangnya kembang api yang mereka nyalakan. Mereka menikmati, mereka
gembira ria, mereka bersuka ria. Gemuruh suara petasan terus bergolak,
bagai suasana perang. Mereka menikmati suasana gemuruh yang semakin
bergolak, semakin besar.
Tak ada suara lain selain suara gemuruh petasan. Itu yang terdengar.
Sebenarnya ada juga suara Al-Qur’an yang dipancarkan dari radio Islami.
Semoga saja di negeri ini masih banyak orang yang beristighfar di
tengah-tengah orang yang lalai dan larut dengan upacara agama orang lain
itu.
Pukul dua puluh empat tepat! Gemuruh memuncak, suasana sangat
mencekam karena letusan petasan yang ribuan dari segala penjuru
ditingkahi suara terompet yang ditiup mulut-mulut pemiliknya. Juga suara
klakson mobil yang dibunyikan berkepanjangan. Suara gemuruh itu terus
terdengar. Mereka tertawa, mereka gembira ria, mereka menikmatinya.
Mereka lupa, hati mereka tertawa lupa, lupa dan Iblispun tertawa!
Bahwa mereka telah terseret oleh agama orang di luar sana. Kepercayaan
agama orang lain, namun mereka kini ikut-ikutan, dan dipimpin oleh para
pemimpinnya, dengan biaya dari kantong mereka yang Muslim pula. Betapa
jungkir baliknya, maka iblis pun tentunya tertawa-tawa melebihi mereka
bergembira ria!
Mereka lupa. Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam yang jadi panutan mereka telah wanti-wanti, mengingatkan dengan sangat:
مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ
“Barangsiapa bertasyabuh (menyerupakan diri) dengan suatu kaum, maka ia bagian dari mereka.” (HR. Abu Daud 3512, dari Ibnu Umar, hasan shahih menurut Al-Albani, dan riwayat An-Nasaai).
Negeri apa ini? Adakah negeri ini punya panutan? Di mana mereka?
Seandainya ada, ke mana mereka? Ataukah juga ikut merayakan tahun baru
ini? Atau bahkan joget-joget mumpung banyak artis yang bisa disewa? Ikut
jugakah tertawa seperti semua, semua tertawa.
Padahal di berbagai sudut yang sunyi di sana banyak manusia
menderita. Entah perutnya lapar atau rumahnya kebanjiran, roboh, terkena
gempa, bencana dan aneka musibah. Mulut mereka yang sedih sedang
meringis-ringis, namun di balik itu mereka yang berhura-hura dengan
mengikuti adat kekafiran, berjingkrakan tidak ingat apa-apa. Apalagi
ingat penderitaan orang-orang yang seharusnya mereka santuni! Jauh-jauh
itu.
Padahal negeri ini punya banyak masalah. Padahal negeri ini miskin
adanya. Padahal negeri ini selalu ditimpa bencana. Padahal negeri ini
banyak! Banyak musibah. Tapi kenapa para panutan dan rakyatnya berpesta
pora hanya untuk merayakan tahun baru?
Bahkan para habaib juga latah derngan dalih untuk menandingi maksiat,
padahal Islam pun tidak menyuruhnya seperti itu? Kenapa para pemimpin
dan rakyatnya membakar uang (dengan petasan dan kembang api) hanya untuk
merayakan tahun baru? Mereka bangga! Bangga! Apakah para pemimpin itu
tidak berfikir?
Afalaa ta’qiluun?
Dan bagaimana masyarakat akan berfikir, jika para pemimpin mereka tidak bisa berfikir!
Mari kita sejenak berfikir untuk menghitung kerugian. Uang yang
dibakar pada malam tahun baru, satu biji mercon terbang saja harganya Rp
50.000,- sedang orang-orang yang membakar mercon atau petasan itu tiap
orang tidak hanya membakar satu mercon. Berapa uang yang dibakar
sia-sia.
Lalu kembang api air mancur satu biji harganya Rp 30.000,- sedang
orang yang membakar kembang api biasanya tidak puas hanya membakar satu
biji. Berapa uang yang telah dia bakar. Lalu berapa juta orang yang
membakar mercon dan kembang api. Itu belum yang dikuras dari APBD oleh
pemimpin-pemimpin daerah, yang artinya mereka membakar uang yang disedot
dari rakyat dengan meninggikan pajak dan sebagainya.
Membakar uang berupa mercon dan kembang api itu sendiri telah dikecam oleh Allah Ta’ala dan Rasu-Nya:
وَآَتِ ذَا الْقُرْبَى حَقَّهُ
وَالْمِسْكِينَ وَابْنَ السَّبِيلِ وَلَا تُبَذِّرْ تَبْذِيرًا (26) إِنَّ
الْمُبَذِّرِينَ كَانُوا إِخْوَانَ الشَّيَاطِينِ وَكَانَ الشَّيْطَانُ
لِرَبِّهِ كَفُورًا [الإسراء/26، 27]
“Dan berikanlah kepada keluarga-keluarga yang dekat akan haknya,
kepada orang miskin dan orang yang dalam perjalanan dan janganlah kamu
menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros. Sesungguhnya
pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara syaitan dan syaitan itu
adalah sangat ingkar kepada Tuhannya.” (QS Al-Israa’ [17] : 26-27)
Betapa senangnya seandainya duit 50 ribu rupiah atau 30 ribu rupiah
itu disedekahkan kepada kerabat yang kekurangan atau orang miskin
sekitar kita. Pahala dapat, hubungan kemanusiaan pun tambah baik, insya
Allah. Tetapi dengan dibakar seperti itu, maka uang musnah tanpa guna,
dosa pun menghadangnya serta syaitan pun menjadi temannya. Betapa
ruginya.
Makanya Nabi
shallallahu ‘alaihi wa sallam memperingatkan:
« إِنَّ اللَّهَ كَرِهَ لَكُمْ ثَلاَثًا قِيلَ وَقَالَ وَإِضَاعَةَ الْمَالِ وَكَثْرَةَ السُّؤَالِ ».
“Sesungguhnya Allah membenci kepada kalian tiga perkara:
berdesas-desus (merumpi/ gossip), menghamburkan harta, dan banyak
bertanya.” (HR. Muttafaq ‘alaih) .
Menghamburkan harta yaitu menggunakannya dalam kemaksiatan atau
menggunakan harta dalam hal-hal yang mubah (boleh) tapi secara
menghamburkan atau boros.
Jadi hura-hura merayakan tahun baru dengan membakar petasan, kembang
api, joget-jogat dan sebagainya itu jelas telah banyak ruginya dan
dibenci Allah
Ta’ala. Masih pula ditambah lagi bahwa semua itu karena mengikuti orang kafir. Ini menambah pula kebencian Allah Ta’la tentu saja.
Dan masih pula, bagaimana kewajiban-kewajiban mereka terhadap Allah
Ta’ala? Ketika mereka berjejal di jalanan Puncak dalam keadaan macet
penuh kendaraan, juga yang ke Ancol dan sebagainya, mereka rata-rata
dapat diperkirakan, berangkatnya ashar. Lalu di mana mereka shalat
maghrib? Dan apakah mereka tidak sayang terhadap dirinya, terjebak dalam
kesulitan sekaligus meninggalkan kewajiban shalat?
Aneka kerugian lahir maupun batin, materi maupun rohani ternyata
kalau ditotal benar-benar sangat rugi. Masih pula menimbulkan dosa.
Wanita-Wanita Muslimah Turut Merayakan
Sebagian besar penduduk Indonesia adalah wanita dan mayoritas
muslimah. Tetapi sayang, karena panduan sehari-harinya adalah televisi
yang memang gencar mempromosikan perayaan malam tahun baru dari tahun ke
tahun, maka hasilnya bisa terlihat sekarang.
Wanita-wanita muda muslimah, ibu-ibu muda dan yang tua antusias
menjadi salah satu pendukung besar suksesnya perayaan tahun baru.
Betapa tidak. Mulai dari ibu-ibu yang tua tanpa tahu apa manfaatnya,
tanpa tahu apa hukumnya, dengan kesadarannya, mereka menyediakan
fasilitas-fasilitas yang mendukung guna merayakan tahun baru.
Dukungan pertama : Ibu-ibu dengan ringannya
membelikan anak-anaknya terompet atau petasan dan kembang api untuk saat
malam pergantian tahun, benda itu digunakan. Mereka tidak tahu dan
mungkin memang tidak mau tahu ada peringatan dari Nabi
shallallahu ‘alaihi wa sallam:
صَوْتَانِ مَلْعُونَانِ في الدُّنْيا
وَالآخِرَةِ مِزْمَارٌ عِنْدَ نِعْمَةٍ وَرَنَّةٌ عِنْدَ مُصِيبَةٍ (رواه
البزار عن أنس بإسناد صحيح)
Dua suara yang dilaknat di dunia dan akherat: (suara tiupan)
seruling ketika (sedang) nikmat (senang) dan (suara jeritan) ratapan
ketika musibah. (HR. Al-Bazzar dan Dhiya’ Al-Maqdisi dari Anas
dengan sanad shahih, dishahihkan Al-Albani dalam Al-Jami’ As-Shaghir
nomor 3801).
Yang namanya terompet tentu saja termasuk dalam kategori mizmar
(seruling) yang suaranya dilaknat itu. Karena lonceng atau kelinting
saja dalam hadits dimasukkan dalam jenis mizmar (seruling) yang suaranya
dilaknat itu.
Hingga dalam Kitab Riyadhus Shalihin, Imam Nawawi menegaskan agar
hewan ternak Muslimin jangan dikalungi jaros, klinting atau lonceng.
Hewan saja agar tidak dikalungi jaros agar tidak timbul bunyi yang
dilaknat, lha ini malah anak-anak dibekali uang untuk beli terompet
untuk mempekerjakan mulutnya agar mengeluarkan bunyi yang dilaknat, di
hari rayanya orang kafir lagi. Betapa terbalik-baliknya keadaan buruk
ini.
Dukungan kedua: Menyediakan sarana untuk membakar ayam atau ikan atau jagung untuk dinikmati pada malam pergantian tahun.
Dukungan ketiga: Menyediakan kendaraan untuk keluarga atau anak-anaknya pergi ke berbagai tempat untuk menikmati malam pergantian tahun.
Dukungan keempat: Dirinya dan uangnya ikut serta merayakan malam pergantian tahun dengan beragam antusiasnya ibu-ibu.
Dari antusias ibu-ibu muslimah ini lah akhirnya berjuta muslim
muslimah turut larut merayakan tahun baru yang sedianya adalah perayaan
natalnya umat nasrani yang memang ada golongan nasrani yang merayakan
natalnya tanggal satu Januari.
Betapa tertipunya para wanita muslimah ini, selama ini
digembar-gemborkan oleh media televisi yang mempromosikan acara-acara
yang begitu menarik perhatian wanita-wanita muslimah tentang perayaan
tahun baru ini.
Betapa tertipunya. Wanita-wanita muslimah ini telah jadi sasaran
empuk, agar supaya ikut larut merayakan tahun baru tanpa sadar bahwa itu
rencana Yahudi dan Nasrani yang saling bahu membahu untuk menarik
wanita-wanita muslimah secara halus dan manis, agar tak kentara mereka
dijadikan sasarannya.
Dan tahun ini, sukses besar diraih oleh Yahudi dan Nasrani dalam
menjebloskan wanita-wanita muslimah turut larut dengan gembira ria, tawa
gembira, bersorak ria merayakan tahun baru 2011. Mereka terpedaya! Tapi
anehnya, mereka bangga dan tertawa-tawa. Betapa tertipunya!
Mungkin awalnya hanya berfikir bahwa ikut merayakan tahun baru adalah
gaya hidup yang modern. Toh buktinya televisi-televisi terus mengulas
dari berbagai versi dan dikemas semenarik dan semanis mungkin tentang
acara- acara memperingati tahun baru.
Maka kemudian dengan lapang hati dan sadar akhirnya para wanita
muslimah Indonesia merayakan dengan penuh kegembiraan melebihi
kegembiraan saat hari raya Idul Fithri. Padahal justru Idul Fithri itu
perayaan Ummat Islam sedunia benar-benar. Dan ketika merayakannya sesuai
tuntunan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam serta ikhlas lillahi
Ta’ala maka insya Allah mendapatkan pahala, di samping gembira.
Tentu akan beda perasaan. Jika hari raya Idul Fithri hati penuh rasa
takwa kepada ALLAH, penuh rasa syukur dan kegembiraan yang ikhlas menuju
kemenangan setelah sebulan berpuasa.
Tetapi untuk perayaan tahun baru tentu lain lagi walaupun kegembiraan
itu melebihi kegembiraan saat Idul Fithri, karena hakekatnya
kegembiraan itu semu belaka. Dan jika alasannya bersyukur, bersyukur
untuk apa?
Kemudian setelah berlalunya waktu, hanya penyesalan yang tersisa.
Penyesalan karena waktu terbuang percuma, lantaran tidak jelas sama
sekali: Untuk apa dan untuk siapa tahun baru itu dirayakan? Penyesalan
karena hitungannya sejumlah uang ternyata sudah terbuang sia-sia.
Padahal urusan rumah tangganya belum tertutupi. Dan
penyesalan-penyesalan lainnya.
Wanita muslimah sesungguhnya telah tertipu dan terjebak oleh
promosi-promosi manis yang dilayangkan kaum kafirin Yahudi dan Nasrani
serta antek-anteknya lewat acara-acara televisi yang begitu menarik dan
sepertinya untuk suatu gaya hidup yang modern.
Padahal di dalamnya ajakan dan jebakan mereka yakni musuh-musuh Islam
yang memang tidak akan ridho kepada umat Muhammad shallallahu ‘alaihi
wa sallam sampai kita mau mengikuti agama mereka. Seperti yang sudah di
peringatkan dalam Al-Qur’an, yang berbunyi:
وَلَنْ تَرْضَى عَنْكَ الْيَهُودُ وَلَا
النَّصَارَى حَتَّى تَتَّبِعَ مِلَّتَهُمْ قُلْ إِنَّ هُدَى اللَّهِ هُوَ
الْهُدَى وَلَئِنِ اتَّبَعْتَ أَهْوَاءَهُمْ بَعْدَ الَّذِي جَاءَكَ مِنَ
الْعِلْمِ مَا لَكَ مِنَ اللَّهِ مِنْ وَلِيٍّ وَلَا نَصِيرٍ [البقرة/120]
“Dan orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan ridho kepada kamu
(Muhammad) hingga kamu mengikuti agama mereka. Katakanlah, ‘Sesungguhnya
petunjuk ALLAH itulah petunjuk (yang benar).’ Dan sesungguhnya jika
engkau mengikuti keinginan mereka setelah ilmu (kebenaran) datang
kepadamu, maka tidak akan ada bagimu pelindung dan penolong dari ALLAH.” (QS. Al-Baqarah [2] : 120)
Jika wanita-wanita muslimah mau memperhatikan, merenungi, mengamalkan
ayat ini tentulah akan tahu bahwa merayakan tahun baru bukan lah gaya
hidup modern. Tetapi merayakan tahun baru adalah ajakan dan jebakan kaum
Yahudi dan Nasrani untuk para wanita muslimah yang apa lagi mayoritas
ada di Indonesia.
Tetapi sayang seribu kali sayang wanita muslimah Indonesia telah
menjadi tumbalnya. Dan setelah itu dengan gampang digaraplah anak-anak
dan keturunannya. Apakah kenyataan ini dianggap sepele?
Tentu hal ini bukan urusan yang sepele. Karena ALLAH telah menperingatkan
“Dan
sesungguhnya jika engkau mengikuti keinginan mereka setelah ilmu
(kebenaran) datang kepadamu, maka tidak akan ada bagimu pelindung dan
penolong dari ALLAH.” (QS. Al-Baqarah [2] : 120)
Jadi untuk siapa perayaan tahun baru itu? Untuk apa ikut-ikutan
merayakannya? Padahal ALLAH sendiri tidak akan melindungi dan tidak akan
menolong bagi para pengikut keinginan mereka.
Siapa mereka itu? Yaitu kaum kafirin Yahudi dan Nasrani. Dan bukankah
telah begitu banyak muslim dan muslimah yang mengikuti mereka? Sangat
mencekam!
http://www.eramuslim.com/berita/analisa/untuk-apa-acara-tahun-baru-diadakan.htm#.UsLQbCeueZA