Halaman

Selasa, 31 Desember 2013

3 Keutamaan Shalat Dhuha


Shalat Dhuha memiliki keutamaan yang luar biasa. Berikut ini hadits-hadits yang menunjukkan 3 keutamaan shalat Dhuha:

1. Shalat Dhuha 2 rakaat senilai 360 sedekah


يُصْبِحُ عَلَى كُلِّ سُلاَمَى مِنْ أَحَدِكُمْ صَدَقَةٌ فَكُلُّ تَسْبِيحَةٍ صَدَقَةٌ وَكُلُّ تَحْمِيدَةٍ صَدَقَةٌ وَكُلُّ تَهْلِيلَةٍ صَدَقَةٌ وَكُلُّ تَكْبِيرَةٍ صَدَقَةٌ وَأَمْرٌ بِالْمَعْرُوفِ صَدَقَةٌ وَنَهْىٌ عَنِ الْمُنْكَرِ صَدَقَةٌ وَيُجْزِئُ مِنْ ذَلِكَ رَكْعَتَانِ يَرْكَعُهُمَا مِنَ الضُّحَى

“Setiap pagi, setiap ruas anggota badan kalian wajib dikeluarkan shadaqahnya. Setiap tasbih adalah shadaqah, setiap tahmid adalah shadaqah, setiap tahlil adalah shadaqah, setiap takbir adalah shadaqah, menyuruh kepada kebaikan adalah shadaqah, dan melarang berbuat munkar adalah shadaqah. Semua itu dapat diganti dengan shalat dhuha dua rakaat.” (HR. Muslim)

فِى الإِنْسَانِ ثَلاَثُمِائَةٍ وَسِتُّونَ مَفْصِلاً فَعَلَيْهِ أَنْ يَتَصَدَّقَ عَنْ كُلِّ مَفْصِلٍ مِنْهُ بِصَدَقَةٍ. قَالُوا وَمَنْ يُطِيقُ ذَلِكَ يَا نَبِىَّ اللَّهِ قَالَ النُّخَاعَةُ فِى الْمَسْجِدِ تَدْفِنُهَا وَالشَّىْءُ تُنَحِّيهِ عَنِ الطَّرِيقِ فَإِنْ لَمْ تَجِدْ فَرَكْعَتَا الضُّحَى تُجْزِئُكَ

“Di dalam tubuh manusia terdapat tiga ratus enam puluh sendi, yang seluruhnya harus dikeluarkan shadaqahnya.” Mereka (para sahabat) bertanya, “Siapakah yang mampu melakukan itu wahai Nabiyullah?” Beliau menjawab, “Engkau membersihkan dahak yang ada di dalam masjid adalah shadaqah, engkau menyingkirkan sesuatu yang mengganggu dari jalan adalah shadaqah. Maka jika engkau tidak menemukannya (shadaqah sebanyak itu), maka dua raka’at Dhuha sudah mencukupimu.” (HR. Abu Dawud)

2. Shalat Dhuha 4 rakaat membawa kecukupan sepanjang hari

يَقُولُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ يَا ابْنَ آدَمَ لاَ تُعْجِزْنِى مِنْ أَرْبَعِ رَكَعَاتٍ فِى أَوَّلِ نَهَارِكَ أَكْفِكَ آخِرَهُ

Allah ‘Azza wa Jalla berfirman, “Wahai anak Adam, janganlah engkau luput dari empat rakaat di awal harimu, niscaya Aku cukupkan untukmu di sepanjang hari itu.” (HR. Ahmad)

3. Menjaga shalat Dhuha dicatat sebagai awwabiin

لا يحافظ على صلاة الضحى إلا أواب وهي صلاة الأوابين
“Tidaklah menjaga shalat sunnah Dhuha melainkan awwab (orang yang kembali taat). Inilah shalat awwabin.” (HR. Ibnu Khuzaimah; hasan)

Demikian 3 keutamaan Shalat Dhuha, semoga semakin menguatkan kita dalam mengamalkan salah satu sunnah Nabi ini. [IK/Bersamadakwah]

 http://www.bersamadakwah.com/2013/12/3-keutamaan-shalat-dhuha.html

Aher Rayakan Tahun Baru dengan Muhasabah




dakwatuna.com – Bandung.  Puluhan ribu warga Bandung memadati Pusdai, Bandung untuk menghadiri Muhasabah Akhir Tahun yang diselenggarakan Republika.
Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan menyampaikan apresiasi kepada penyelenggara Muhasabah Nasional  karena menghadirikan acara yang berbeda pada malam pergantian tahun baru ini.
“Lima kali saya hadir di acara ini, alhamdulillah tidak pernah absen. Mudah-mudahan ini menjadi saksi atas iman kita kepada Allah SWT, bahwa kita hadir dalam rangka menyambut masa depan kita, pergantian tahun, hadir dalam warna lain, kekhusyukan dan warna menyambut masa depan dengan cara yang benar,” kata gubernur yang akrab disapa Aher ini.
Salah seorang warga Kota Bandung yang menghadiri acara muhasabah tersebut, Ridwan (24) menuturkan alasan lebih memilih kegiatan tersebut pada malam pergantian tahun baru karena ingin mengevaluasi diri.
“Tahun lalu ikut juga muhasabah di sini, tahun ini alhamdulillah bisa ikut lagi. Saya ingin mengevaluasi diri saja di malam pergantian tahun baru ini,” kata Ridwan.
Sementara itu, warga lainnya Desy mengatakan, alasan dirinya lebih memilih bermalam tahun baruan di masjid karena lebih banyak nilai positifnya.
“Kalau di sini bisa sekalian muhasabah atau merenungkan apa yang sudah dilalui selama setahun ke belakang kemarin. Lumayan juga selain bisa mendengarkan ceramah dari ustadz ada hiburannya juga,” kata Desy yang datang bersama sang suami. (rol/sbb/dakwatuna)

Redaktur: Saiful Bahri

Daripada Hura-Hura, Lebih Baik Dzikir Berjamaah




dakwatuna.com – Jakarta.  Berhura-hura dalam menyambut Tahun Baru seakan-akan sudah menjadi tradisi oleh sebagian masyarakat Indonesia, khususnya kalangan muda.
Di Ibu Kota DKI Jakarta misalnya, pada beberapa tempat selalu saja ada kegiatan yang menjurus kepada dosa yang digelar di setiap penghujung tahun.
“Sejak zaman Gubernur Ali Sadikin sampai sekarang, di hotel-hotel Jakarta banyak digelar pesta maksiat menjelang Tahun Baru. Muda-mudi berpeluk-pelukan sambil menenggak minuman keras,” kata pemerhati Jakarta, Alwi Shahab yang akrab disapa Abah Alwi, Senin (30/12).
Pria kelahiran 1936 itu menuturkan, kebanyakan generasi muda Indonesia sekarang sudah terpengaruh oleh budaya hedonisme Barat. Tanpa melihat latar belakang agama mereka, momentum akhir tahun justru mereka gunakan untuk mengadakan pesta pora yang tak jelas manfaatnya. Bukan dengan mengevaluasi dan mempersiapkan diri sebaik-baiknya untuk menyongsong tahun berikutnya.
Oleh karena itu, kata Abah Alwi, perlu ada kegiatan positif yang dapat mengimbangi acara-acara maksiat di akhir tahun tersebut. Beberapa di antaranya bisa dengan melakukan tabligh akbar ataupun dzikir bersama.
“Alhamdulillah, saya melihat di kampung-kampung sudah banyak juga yang menggelar pengajian dan tabligh akbar menjelang pergantian tahun. Mereka tidak ikut-ikutan dengan gaya Barat,” ujarnya.
Menurut Abah Alwi, kegiatan-kegiatan semacam itu dapat menjadi penyeimbang di tengah-tengah masyarakat yang kini kian tergerus oleh hedonisme. Termasuk juga Dzikir Nasional yang bakal diselenggarakan oleh Republika di Masjd Agung At Tin, Jakarta Timur, pada malam Tahun Baru nanti. (rol/sbb/dakwatuna)

 Redaktur: Saiful Bahri

Umat Muslim Haram Merayakan Valentine's Day

 
 
Fenomena perayaan Valentine's Day tidaklah terlalu asing di beberapa kota besar di Indonesia, seperti Jakarta, Bandung, Surabaya, Yogyakarta, dan kota-kota lainnya. Para remaja, walau baru kelas satu SMP, sudah mengenal budaya setan ini. Mereka biasa merayakannya dengan mengadakan lomba saling merayu antara lawan jenis, saling memberikan bunga dan hadiah kepada pacarnya, mengadakan pesta musik yang terkadang disertai minuman keras tanpa mempedulikan terjadinya percampuran pria dan wanita non-mahram. Bahkan, acara ini oleh mereka dijadikan ajang untuk mengekspresikan hawa nafsu kepada lawan jenis, misalnya mencium pipi, memegang tangan, sampai melakukan perbuatan yang kelewat batas, naudzu billahi min dzalik. Lucunya, perayaan ini pun rupanya tidak hanya dilakukan oleh anak muda. Bapak-bapak, Ibu-ibu, dan tante-tante pun tidak ketinggalan 'bertaklid' merayakan budaya sesat ini.
Lebih memprihatinkan lagi, budaya ini telah menjarah remaja Islam, remaja yang diwanti-wanti oleh Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam untuk selalu mengikat perilakunya dengan ajaran Islam dan tidak membebek kepada cara hidup orang kafir, malah larut dalam perayaan jahiliah ini dengan meninggalkan akidah Islam.
    Budaya perayaan Valentine's Day telah menjarah remaja Islam . . .membebek kepada cara hidup orang kafir dalam perayaan jahiliah ini dengan meninggalkan akidah Islam.
Mereka yang melakukan perayaan ini berdalih dengan kasih sayang. Padahal, pesta semalam suntuk dalam rangka ber-Valentine's Day diikuti dengan perbuatan dan tindakan yang bertentangan dengan moral dan agama (khususnya agama Islam) tidak akan melahirkan kasih sayang yang sejati. Kasih sayang yang dilahirkannya hanyalah kasih sayang semu dan palsu. Bukan kasih sayang, mungkin lebih tepat disebut hawa nafsu.
    Ber-Valentine's Day tidak akan melahirkan kasih sayang yang sejati. . . Bukan kasih sayang, mungkin lebih tepat disebut hawa nafsu.
Sejarah Singkat Valentine's Day

Valentin, atau Valentinus yang di Indonesia beberapa waktu terakhir ini mulai dipopulerkan secara luas dengan istilah Valentin (tanpa e atau huruf s) sebetulnya nama seorang martir (orang Kristen yang terbunuh karena mempertahankan ajaran agama yang dianutnya). Valentin yang sebenarnya adalah nama seorang tokoh agama Kristen yang karena kesalehan dan kedermawanannya diberi gelar Saint atau Santo disingkat dengan St., yang mempunyai tempat istimewa di dalam ajaran agama ini. Panggilan atau gelar ini dilekatkan pula kepada tokoh Kristen yang lainnya, seperti St. Paul, St. Peter, St. Agustine dan sebagainya. St. hanya dihubungkan dengan nama seorang penganjur dan pemimpin besar agama Kristen, dan karena itu tidak dapat diberikan kepada sembarang pemeluk agama ini, yang tingkat keagamaannya masih rendah.
St. Valentin ini karena pertentangannya dengan Kaisar CLAUDIUS II, penguasa Romawi pada waktu itu, berakhir dengan pembunuhan atas dirinya pada abad ketiga, tepatnya pada tanggal 14 Februari tahun 270 Masehi. Menurut kepercayaan Kristen, kematian Valentin ini dikategorikan martir membela agamanya, sebagaimana orang Islam menyebut syahid bagi seorang muslim yang terbunuh di medan jihad.
Kematian yang tragis, kesalehan, dan kedermawanan Valentin ini tidak dapat dilupakan oleh para pengikutnya di belakang. Valentine dijadikan simbol bagi ketabahan, keberanian, dan kepasrahan seorang Kristen menghadapi kenyataan hidupnya. Namanya dipuja dan diagungkan dan hari kematiannya diperingati oleh pengikutnya dalam setiap upacara keagamaan yang dianggap sesuai dengan peristiwa tragis itu. Upacara peringatan yang pada mulanya bersifat religius itu dimulai pada abad ketujuh Masehi dan berlangsung sampai abad keempat belas, dan setelah abad itu signifikansi keagamaannya mulai hilang dan tertutup oleh upacara dan ceremony yang non-agamis.
Hari Valentin, sebagaimana dikatakan di atas, adalah hari kematian Valentine yang kemudian diperingati oleh para pengikutnya setiap tanggal 14 Februari. Kemudian hari Valentine ini dihubungkan pula dengan pesta atau perjamuan kasih sayang bangsa Romawi kuno yang disebut supercalia yang biasanya jatuh pada tanggal 15 Februari. Setelah orang Romawi masuk Kristen, maka pesta supercalia itu secara religius dikaitkan dengan kematian atau upacara kematian St. Valentine.

Penerimaan Valentine sebagai model kasih sayang tulus diduga seperti berasal dari kepercayaan orang Eropa, bahwa masa kasih sayang mulai bersemi bagi burung jantan dan burung betina pada tanggal 14 Februari setiap tahunnya. Perkiraannya atau kepercayaannya ini lalu berkembang menjadi pengertian umum bahwa sebaiknya pihak pemuda mencari seorang pemudi (wanita) untuk menjadikan pasangannya dan sebaliknya pada tanggal tersebut. Bersamaan dengan itu, mereka menyarankan untuk saling tukar tanda mata atau cadeau (kado) sebagai lambang terbinanya kasih sayang di antara mereka. Namun, Valentine ini lebih dipopularkan lagi oleh orang-orang Amerika dalam bentuk greeting card (kartu ucapan selamat) terutama sejak berakhirnya Perang Dunia I.
    Valentine ini lebih dipopularkan lagi oleh orang-orang Amerika dalam bentuk greeting card (kartu ucapan selamat) terutama sejak berakhirnya Perang Dunia I.
Hukum Merayakan Valentine's Day

Keinginan untuk ikut-ikutan memang ada dalam diri manusia, akan tetapi hal tersebut menjadi tercela dalam Islam apabila orang yang diikuti berbeda dengan kita dari sisi keyakinan dan pemikiran. Apalagi, bila mengikuti dalam perkara akidah, ibadah, syiar dan kebiasaan. Padahal, Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam telah melarang untuk mengikuti tata cara peribadatan selain Islam, artinya, "Barang siapa meniru suatu kaum, maka ia termasuk dari kaum tersebut." (HR At-Tirmizi).
Abu Waqid meriwayatkan, "Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam saat keluar menuju Perang Khaibar, beliau melewati sebuah pohon milik orang-orang musyrik, yang disebut dengan Dzaatu Anwaath, biasanya mereka menggantungkan senjata-senjata mereka di pohon tersebut. Para sahabat berkata, 'Wahai Rasulullah, buatkan untuk kami Dzaatu Anwaath, sebagaimana mereka mempunyai Dzaatu Anwaath.' Maka Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda, 'Maha Suci Allah, ini seperti yang diucapkan kaum Nabi Musa, 'Buatkan untuk kami tuhan sebagaimana mereka mempunyai tuhan-tuhan.' Demi Dzat yang jiwaku di tangan-Nya, sungguh kalian akan mengikuti kebiasaan orang-orang yang ada sebelum kalian'." (HR At-Tirmizi, ia berkata, hasan sahih).
Berkasih-sayang versi valentinan ini haruslah diketahui terlebih dahulu hukumnya, lalu diputuskan apakah akan dilaksanakan atau ditinggalkan. Dengan melihat dan memahami asal-usul serta fakta pelaksanaan Valentine's Day, sebenarnya perayaan ini tidak ada sangkut pautnya sedikit pun dengan corak hidup seorang muslim. Tradisi tanpa dasar ini lahir dan berkembang dari segolongan manusia (kaum/bangsa) yang hidup dengan corak yang sangat jauh berbeda dengan corak hidup berdasarkan syariat Islam yang agung.
Sangat jelas bahwa Valentine Day adalah budaya orang kafir, yang kita (umat Islam) dilarang untuk mengambilnya. Kita dilarang menyerupai budaya yang lahir dari peradaban kaum kafir, yang jelas-jelas bertentangan dengan akidah Islam. Sungguh, ikut merayakan hari valentin adalah tindakan haram dan tercela.
    Valentine Day adalah budaya orang kafir, yang kita (umat Islam) dilarang untuk mengambilnya.
Ibnu Qayyim al-Jauziyah rahimahullah berkata, "Memberikan ucapan selamat terhadap acara ritual orang kafir yang khusus bagi mereka, telah disepakati bahwa perbuatan tersebut haram. Semisal memberi selamat atas hari raya dan puasa mereka, dengan mengucapkan, "Selamat hari raya" dan sejenisnya. Bagi yang mengucapkannya, kalaupun tidak sampai pada kekafiran, paling tidak itu merupakan perbuatan haram. Berarti ia telah memberi selamat atas perbuatan mereka yang menyekutukan Allah Subhanahu wa Ta'ala. Bahkan, perbuatan tersebut lebih besar dosanya di sisi Allah Subhanahu wa Ta'ala dan lebih dimurkai daripada memberi selamat atas perbuatan minum khamar atau membunuh. Banyak orang yang terjerumus dalam suatu perbuatan tanpa menyadari buruknya perbuatan tersebut. Seperti orang yang memberi selamat kepada orang lain atas perbuatan maksiat, bid'ah, atau kekufuran. Padahal, dengan itu ia telah menyiapkan diri untuk mendapatkan kemarahan dan kemurkaan Allah Subhanahu wa Ta'ala."
    . . . Memberikan ucapan selamat terhadap acara ritual orang kafir yang khusus bagi mereka, telah disepakati bahwa perbuatan tersebut haram . . . . 
Syekh Muhammad bin Shaleh Al-Utsaimin ketika ditanya tentang Valentine's Day mengatakan, "Merayakan hari Valentine itu tidak boleh, karena alasan berikut. Pertama, ia merupakan hari raya bid'ah yang tidak ada dasar hukumnya di dalam syariat Islam. Kedua, ia dapat menyebabkan hati sibuk dengan perkara-perkara rendahan seperti ini yang sangat bertentangan dengan petunjuk para salaf saleh (pendahulu kita)--semoga Allah meridhai mereka. Maka, tidak halal melakukan ritual hari raya mereka, baik dalam bentuk makan-makan, minum-minum, berpakaian, saling tukar hadiah, ataupun lainnya. Hendaknya setiap muslim merasa bangga dengan agamanya, tidak menjadi orang yang tidak mempunyai pegangan dan ikut-ikutan. Semoga Allah Subhanahu wa Ta'ala melindungi kaum muslimin dari segala fitnah (ujian hidup) yang tampak ataupun yang tersembunyi, dan semoga meliputi kita semua dengan bimbinga-Nya."

Mengekornya kaum muslimin terhadap gaya hidup orang kafir akan membuat mereka senang dan dapat melahirkan kecintaan dan keterikatan hati. Allah berfirman (yang artinya), "Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpinmu; sebagian mereka adalah pemimpin bagi sebagian yang lain. Barang siapa di antara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim." (QS. Al-Maidah: 51).

"Kamu tidak akan mendapati sesuatu kaum yang beriman kepada Allah dan hari Akhirat, saling berkasih sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya." (QS. Al-Mujadilah: 22)
    Mengekornya kaum muslimin terhadap gaya hidup orang kafir akan membuat mereka senang dan dapat melahirkan kecintaan dan keterikatan hati.
Semoga Allah Subhanahu wa Ta'ala senantiasa menjadikan hidup kita penuh dengan kecintaan dan kasih sayang yang tulus, yang menjadi jembatan untuk masuk ke dalam surga yang hamparannya seluas langit dan bumi, yang disediakan bagi orang-orang yang bertakwa. Semoga Allah menjadikan kita termasuk dalam golongan orang-orang yang disebutkan dalam hadis Qudsi, Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman yang artinya, "Kecintaan-Ku adalah bagi mereka yang saling mencintai karena Aku, saling berkorban karena Aku, dan yang saling mengunjungi karena Aku." (HR Ahmad). Wallahu a'lam.

Sumber:

1. The standart International Dictionary, jilid 18 halaman 5090. The Encyclopedia Americana, jilid 27 halaman 859. (dari www.isnet.org/archive-milis/archive99).
2. Valentine's Day Bukan Ajaran Islam, Drs. Nur'i Yakin Mch, SH, M.Hum.
3. www.alsofwah.or.id
4. www.hidayatullah.com
[PurWD/voa-islam.com]

Awas, Terompet dan Topi Tahun Baru Lambang Pemurtadan

 Diposkan oleh Admin BeDa pada Selasa, 31 Desember 2013 | 11.30 WIB

Tahun baru masehi identik dengan terompet dan topi kerucut. Tidak sedikit masyarakat Muslim yang ikut merayakannya, juga dengan meniup terompet dan memakai topi kerucut tersebut.
Tetapi, Muslim yang ikut-ikutan merayakan itu, tahukah mereka makna topi dan terompet tahun baru? Ternyata, topi tahun baru berbentuk kerucut sama dengan bentuk topi Sanbenito.

Sanbenito (dalam bahasa Spanyol disebut sambenito) adalah pakaian "tobat" untuk kalangan Kristen yang menyimpang dari paham gereja. Jika mereka mau kembali ke paham gereja Katolik Roma dengan memakai Sanbenito yang meliputi jubah dan topi kerucut, mereka diampuni dari inkuisisi.
Pada perkembangannya, topi Sanbenito dipaksakan kepada kaum Muslimin Andalusia. Ketika kaum Frank menyerang Spanyol Muslim (Andalusia), mereka menangkap dan membunuh umat Islam yang tidak mau tunduk kepada mereka. Kaum Kristen Trinitarian itu juga melaksanakan inkuisisi kepada pemeluk Islam. Namun bagi mereka yang mau "bertobat" kembali ke Kristen, mereka dibebaskan dengan kewajiban -salah satunya- memakai topi Sanbenito.

Jika topi Sanbenito identik dengan "pertobatan" Kristen, terompet identik dengan ritual Yahudi. Sejarah mencatat sejak tahun 63 SM, Yahudi sudah akrab dengan penggunaan terompet. Dan hal itu berlangsung hingga zaman Rasulullah Muhammad Shallallahu 'alaihi wasallam.

Oleh karena itulah, Rasulullah menolak ketika ada yang mengusulkan memakai terompet untuk memanggil kaum muslimin menjelang shalat berjama'ah. "Membunyikan terompet adalah perilaku orang-orang Yahudi," sabda beliau seperti diabadikan dalam hadits riwayat Abu Daud.

Hadits yang lebih umum juga mengingatkan dengan tegas. Man tasyabbaha biqaumin fahuwa minhum. Barangsiapa menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk bagian dari kaum tersebut. Na'udzu billah min dzalik. [IK/Bersamadakwah]

AKARTA (Arrahmah.com) – Masih ingat momen tahun baru 2013 lalu? DKI Jakarta diterpa musibah banjir yang dahsyat. Ketika itu, banjir datang beberapa hari setelah perayaan tahun baru 2013 yang menghabiskan puluhan milyar dengan berbagai macam hiburannya. Kini setelah setahun berlalu, rupanya teguran Allah berupa banjir besar yang telah merugikan hingga triliunan rupiah itu tidak membuat pemda dan warga Jakarta kapok.
Malam ini, Selasa (31/12/2013) dimulai pada pukul 19.00 WIB, pemprov DKI Jakarta kembali menggelar Jakarta Night Festival untuk menyambut tahun baru 2014 yang berpusat di sepanjang Jalan MH Thamrin hingga Jalan Jenderal Sudirman dengan berbagai hiburan. Total ada 194 acara hiburan yang disiapkan Pemprov DKI yang dipimpin oleh gubernur Joko Widodo (Jokowi) itu.
Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan DKI Jakarta Arie Budhiman mengatakan, jumlah ini sedikit berkurang dari tahun sebelumnya yang berjumlah 196. Namun untuk jumlah lokasi makin bertambah dari 155 menjadi 156 lokasi.
“Tahun ini jumlah acara berkurang, tapi untuk jumlah lokasi malah bertambah,” kata Arie seperti dikutip detik.com, Senin (30/12/2013).
Arie mengatakan, 194 acara tersebut disebar di 5 wilayah Jakarta. Untuk di Jakarta Pusat ada 82 acara di 52 titik. Jakarta Utara ada 15 acara di 14 titik. Jakarta Barat ada 27 acara di 26 titik. Di Jakarta Selatan ada 64 acara di 59 titik, dan di Jakarta Timur ada 5 acara di 4 titik.

Maksiat akan mengundang bencana
Menurut mantan misionaris, Ustaz Bernard Abdul Jabbar, perayaan tahun baru Masehi berasal dari kaum kafir yang dimulai jaman Romawi pimpinan Julius Caesar pada 45 SM (sebelum masehi). “Umat Islam jelas haram ikut merayakannya, apalagi jika dilakukan dengan maksiat. Nabi Muhammad Saw mengingatkan dalam haditsnya, “Barangsiapa menyerupai suatu kaum, maka ia termasuk kaum tersebut,” papar Ustaz Bernard.

Dia juga mengingatkan, seharusnya bencana banjir tahun lalu menjadikan pelajaran untuk tidak kembali bermaksiat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.
“Didalam al Qur’an, Allah Swt berfirman, “Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar),” jelas Ustaz Bernard membacakan surat Ar-Ruum ayat 41.
(suaraislam/arrahmah.com)
- See more at: http://www.arrahmah.com/news/2013/12/31/pemprov-dki-tak-ambil-pelajaran-tahun-lalu-ulangi-lagi-gelar-maksiyat-undang-bencana-malam-ini.html#sthash.j2k8fcrM.dpuf
AKARTA (Arrahmah.com) – Masih ingat momen tahun baru 2013 lalu? DKI Jakarta diterpa musibah banjir yang dahsyat. Ketika itu, banjir datang beberapa hari setelah perayaan tahun baru 2013 yang menghabiskan puluhan milyar dengan berbagai macam hiburannya. Kini setelah setahun berlalu, rupanya teguran Allah berupa banjir besar yang telah merugikan hingga triliunan rupiah itu tidak membuat pemda dan warga Jakarta kapok.
Malam ini, Selasa (31/12/2013) dimulai pada pukul 19.00 WIB, pemprov DKI Jakarta kembali menggelar Jakarta Night Festival untuk menyambut tahun baru 2014 yang berpusat di sepanjang Jalan MH Thamrin hingga Jalan Jenderal Sudirman dengan berbagai hiburan. Total ada 194 acara hiburan yang disiapkan Pemprov DKI yang dipimpin oleh gubernur Joko Widodo (Jokowi) itu.
Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan DKI Jakarta Arie Budhiman mengatakan, jumlah ini sedikit berkurang dari tahun sebelumnya yang berjumlah 196. Namun untuk jumlah lokasi makin bertambah dari 155 menjadi 156 lokasi.
“Tahun ini jumlah acara berkurang, tapi untuk jumlah lokasi malah bertambah,” kata Arie seperti dikutip detik.com, Senin (30/12/2013).
Arie mengatakan, 194 acara tersebut disebar di 5 wilayah Jakarta. Untuk di Jakarta Pusat ada 82 acara di 52 titik. Jakarta Utara ada 15 acara di 14 titik. Jakarta Barat ada 27 acara di 26 titik. Di Jakarta Selatan ada 64 acara di 59 titik, dan di Jakarta Timur ada 5 acara di 4 titik.

Maksiat akan mengundang bencana
Menurut mantan misionaris, Ustaz Bernard Abdul Jabbar, perayaan tahun baru Masehi berasal dari kaum kafir yang dimulai jaman Romawi pimpinan Julius Caesar pada 45 SM (sebelum masehi). “Umat Islam jelas haram ikut merayakannya, apalagi jika dilakukan dengan maksiat. Nabi Muhammad Saw mengingatkan dalam haditsnya, “Barangsiapa menyerupai suatu kaum, maka ia termasuk kaum tersebut,” papar Ustaz Bernard.

Dia juga mengingatkan, seharusnya bencana banjir tahun lalu menjadikan pelajaran untuk tidak kembali bermaksiat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.
“Didalam al Qur’an, Allah Swt berfirman, “Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar),” jelas Ustaz Bernard membacakan surat Ar-Ruum ayat 41.
(suaraislam/arrahmah.com)
- See more at: http://www.arrahmah.com/news/2013/12/31/pemprov-dki-tak-ambil-pelajaran-tahun-lalu-ulangi-lagi-gelar-maksiyat-undang-bencana-malam-ini.html#sthash.j2k8fcrM.dpuf
AKARTA (Arrahmah.com) – Masih ingat momen tahun baru 2013 lalu? DKI Jakarta diterpa musibah banjir yang dahsyat. Ketika itu, banjir datang beberapa hari setelah perayaan tahun baru 2013 yang menghabiskan puluhan milyar dengan berbagai macam hiburannya. Kini setelah setahun berlalu, rupanya teguran Allah berupa banjir besar yang telah merugikan hingga triliunan rupiah itu tidak membuat pemda dan warga Jakarta kapok.
Malam ini, Selasa (31/12/2013) dimulai pada pukul 19.00 WIB, pemprov DKI Jakarta kembali menggelar Jakarta Night Festival untuk menyambut tahun baru 2014 yang berpusat di sepanjang Jalan MH Thamrin hingga Jalan Jenderal Sudirman dengan berbagai hiburan. Total ada 194 acara hiburan yang disiapkan Pemprov DKI yang dipimpin oleh gubernur Joko Widodo (Jokowi) itu.
Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan DKI Jakarta Arie Budhiman mengatakan, jumlah ini sedikit berkurang dari tahun sebelumnya yang berjumlah 196. Namun untuk jumlah lokasi makin bertambah dari 155 menjadi 156 lokasi.
“Tahun ini jumlah acara berkurang, tapi untuk jumlah lokasi malah bertambah,” kata Arie seperti dikutip detik.com, Senin (30/12/2013).
Arie mengatakan, 194 acara tersebut disebar di 5 wilayah Jakarta. Untuk di Jakarta Pusat ada 82 acara di 52 titik. Jakarta Utara ada 15 acara di 14 titik. Jakarta Barat ada 27 acara di 26 titik. Di Jakarta Selatan ada 64 acara di 59 titik, dan di Jakarta Timur ada 5 acara di 4 titik.

Maksiat akan mengundang bencana
Menurut mantan misionaris, Ustaz Bernard Abdul Jabbar, perayaan tahun baru Masehi berasal dari kaum kafir yang dimulai jaman Romawi pimpinan Julius Caesar pada 45 SM (sebelum masehi). “Umat Islam jelas haram ikut merayakannya, apalagi jika dilakukan dengan maksiat. Nabi Muhammad Saw mengingatkan dalam haditsnya, “Barangsiapa menyerupai suatu kaum, maka ia termasuk kaum tersebut,” papar Ustaz Bernard.

Dia juga mengingatkan, seharusnya bencana banjir tahun lalu menjadikan pelajaran untuk tidak kembali bermaksiat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.
“Didalam al Qur’an, Allah Swt berfirman, “Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar),” jelas Ustaz Bernard membacakan surat Ar-Ruum ayat 41.
(suaraislam/arrahmah.com)
- See more at: http://www.arrahmah.com/news/2013/12/31/pemprov-dki-tak-ambil-pelajaran-tahun-lalu-ulangi-lagi-gelar-maksiyat-undang-bencana-malam-ini.html#sthash.j2k8fcrM.dpuf

Untuk Apa Acara Tahun Baru Diadakan ?



 
Eramuslim. Oleh Mulyawati M. Yasin *
Kembali masyarakat Indonesia antusias akan merayakan datangnya tahun baru  yang akan menjelang. Anak-anak kecil terihat gembira ria dengan teman-temannya sambil membawa dan meniup terompet. Mereka tidak tahu bahwa itu bukan dari ajaran agama Islam yang mereka peluk, tapi dari agama lain. Mereka tidak tahu, dan mereka hanya ikut-ikutan.
Pemandangan ini ada di jalan-jalan MHT (Muh Husni Thamrin) alias gang-gang di perkampungan yang makin terasa sempit dan bising.Lain halnya dengan anak-anak kecil yang orang tuanya punya kelebihan duit, mereka telah ramai di mal-mal pusat belanja dan tempat hiburan yang tersebar di mana-mana.
Orang-orang dewasa baik laki-laki maupun ibu-ibu sibuk dengan menyiapkan apa yang akan dibakar pada malam pergantian tahun. Ada yang akan membakar ayam, ada yang akan membakar ikan, dan ada juga yang akan membakar jagung. Pedagang petasan dan kembang api pun diserbu para pembeli, baik anak-anak maupun orang dewasa.
Bagi yang punya kendaraan, mereka bersiap pergi keluar dari rumahnya untuk merayakan tahun baru atau merayakan pergantian tahun. Ada yang pergi ke puncak, padahal ribuan kendaraa telah menuju ke sana. Ada juga ribuan kendaraan mendatangi tempat-tempat keramaian. Tahun ini ada 155 tempat hiburan di seluruh Jakarta yang siap merayakan tahun baru. Dan aneka tempat maksiat siap menampung pengunjung yang akan bermaksiat dan hura-hura di malam tahun baru.
Lain hal lagi dengan anak-anak mudanya. Mereka telah berlalu dari sore dengan teman atau pasangannya mendatangi tempat-tempat hiburan dan tempat maksiat yang dikemas seindah mungkin. Sungguh suatu pemandangan yang mengkhawatirkan dan menyesakkan dada bagi manusia yang masih bisa berfikir dan bertakwa.
Ada warna lain dalam perayaan tahun baru ini. Yaitu para Habaib dan para Ustadz (?) dan jamaahnya mereka menggelar apa yang mereka sebut dzikir bersama di beberapa tempat. Konon niatannya untuk menandingi kemaksiatan di malam tahun baru. Tapi kalau kita bisa sedikit saja berfikir secara rasional, apakah dengan bercampur aduknya antara laki-laki dan wanita yang hadir di acara yang disebut dzikir atau apalah namanya itu, di malam hari yang bahkan kemungkinan sampai larut malam itu pun namanya bukan maksiat? Apa bisa dibenarkan jika maksiat dilawan dengan bid’ah dan maksiat cara lain? (Laa taghdhob! Jangan marah!)
Sepuluh menit lagi waktu akan menunjukkan pukul dua puluh empat yang mereka sebut jam nol nol. Petasan sudah terdengar bersahutan tanpa putus. Suasana mulai mencekam. Mereka yang merayakan pun bergembira ria, tertawa-tawa. Jalan-jalan raya telah penuh sesak oleh kendaraan mobil dan sepeda motor. Di gang-gang MHT, orang-orang keluar dari rumahnya ramai memenuhi jalan-jalan kecil, mereka bergerombol satu keluarga atau ada yang bergabung dengan tetangga lain, suasana bising dengan suara orang dan suara terompet saling bersahutan. Hanya satu atau dua rumah yang penghuninya diam di dalam rumah tanpa ikut-ikutan meramaikan suasana. Suara petasan bersahutan riuh rendah, terus bergolak. Bukan saja dari kejauhan, suasana ini begitu memuncak dari seluruh arah, seluruh masyarakat Jakarta, mungkin di kota-kota lain pun ada yang ikut latah, kecuali yang berani terus terang bahwa Pemdanya tidak punya anggaran.
Saya acungi jempol, Pemda yang punya nyali dan jati diri seperti itu. Berani malawan arus, dan tidak mau untuk apa yang disebut merayakan tahun baru. Seharusnya semuanya seperti itu! Tidak usah ikut-ikutan merayakan tahun baru yang berasal dari agama kaum kafir. Toh bangsa ini bukan bangsa kafir, bahkan berjuang melawan penjajah kafir agar merdeka. Demikian sejarahnya!
Kenapa sekarang yang diberi amanah oleh para pejuang yang melawan bangsa penjajah kafir itu justru sikapnya membebek pada yang kafir? Maka saya acungi jempol Pemda yang tidak mau ikut-ikutan bertahun baru. Bagus sekali itu. Biar yang masih punya nalar waras mau berfikir. Sebagaimana tidak diadakannya perayaan tahun baru setelah terjadi bencana besar tsunami Aceh Desember 2004. Tampaknya hura-hura tanpa guna itu hanya prei satu kali saat itu yakni tahun baru 2005.
Kini walau baru saja terjadi bencana dan musibah di mana-mana, hura-hura tahun baru pun kambuh lagi. Bahkan tempat maksiat yang dipoles dengan sebutan ‘tempat hiburan’ diizinkan buka sampai jam 4 pagi. Na’udzubillaahi min dzalik! Kami berlindung kepada Allah dari hal yang demikian.
Di tengah malam ini mereka menikmati suara gemuruh letusan petasan dan terangnya kembang api yang mereka nyalakan. Mereka menikmati, mereka gembira ria, mereka bersuka ria. Gemuruh suara petasan terus bergolak, bagai suasana perang. Mereka menikmati suasana gemuruh yang semakin bergolak, semakin besar.
Tak ada suara lain selain suara gemuruh petasan. Itu yang terdengar. Sebenarnya ada juga suara Al-Qur’an yang dipancarkan dari radio Islami. Semoga saja di negeri ini masih banyak orang yang beristighfar di tengah-tengah orang yang lalai dan larut dengan upacara agama orang lain itu.
Pukul dua puluh empat tepat! Gemuruh memuncak, suasana sangat mencekam karena letusan petasan yang ribuan dari segala penjuru ditingkahi suara terompet yang ditiup mulut-mulut pemiliknya. Juga suara klakson mobil yang dibunyikan berkepanjangan. Suara gemuruh itu terus terdengar. Mereka tertawa, mereka gembira ria, mereka menikmatinya.
Mereka lupa, hati mereka tertawa lupa, lupa dan Iblispun tertawa! Bahwa mereka telah terseret oleh agama orang di luar sana. Kepercayaan agama orang lain, namun mereka kini ikut-ikutan, dan dipimpin oleh para pemimpinnya, dengan biaya dari kantong mereka yang Muslim pula. Betapa jungkir baliknya, maka iblis pun tentunya tertawa-tawa melebihi mereka bergembira ria!
Mereka lupa. Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam yang jadi panutan mereka telah wanti-wanti, mengingatkan dengan sangat:
مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ
“Barangsiapa bertasyabuh (menyerupakan diri) dengan suatu kaum, maka ia bagian dari mereka.” (HR. Abu Daud 3512, dari Ibnu Umar, hasan shahih menurut Al-Albani, dan riwayat An-Nasaai).
Negeri apa ini? Adakah negeri ini punya panutan? Di mana mereka? Seandainya ada, ke mana mereka? Ataukah juga ikut merayakan tahun baru ini? Atau bahkan joget-joget mumpung banyak artis yang bisa disewa? Ikut jugakah tertawa seperti semua, semua tertawa.
Padahal di berbagai sudut yang sunyi di sana banyak manusia menderita. Entah perutnya lapar atau rumahnya kebanjiran, roboh, terkena gempa, bencana dan aneka musibah. Mulut mereka yang sedih sedang meringis-ringis, namun di balik itu mereka yang berhura-hura dengan mengikuti adat kekafiran, berjingkrakan tidak ingat apa-apa. Apalagi ingat penderitaan orang-orang yang seharusnya mereka santuni! Jauh-jauh itu.
Padahal negeri ini punya banyak masalah. Padahal negeri ini miskin adanya. Padahal negeri ini selalu ditimpa bencana. Padahal negeri ini banyak! Banyak musibah. Tapi kenapa para panutan dan rakyatnya berpesta pora hanya untuk merayakan tahun baru?
Bahkan para habaib juga latah derngan dalih untuk menandingi maksiat, padahal Islam pun tidak menyuruhnya seperti itu? Kenapa para pemimpin dan rakyatnya membakar uang (dengan petasan dan kembang api) hanya untuk merayakan tahun baru? Mereka bangga! Bangga! Apakah para pemimpin itu tidak berfikir? Afalaa ta’qiluun?
Dan bagaimana masyarakat akan berfikir, jika para pemimpin mereka tidak bisa berfikir!
Mari kita sejenak berfikir untuk menghitung kerugian. Uang yang dibakar pada malam tahun baru, satu biji mercon terbang saja harganya Rp 50.000,- sedang orang-orang yang membakar mercon atau petasan itu tiap orang tidak hanya membakar satu mercon. Berapa uang yang dibakar sia-sia.
Lalu kembang api air mancur satu biji harganya Rp 30.000,- sedang orang yang membakar kembang api biasanya tidak puas hanya membakar satu biji. Berapa uang yang telah dia bakar. Lalu berapa juta orang yang membakar mercon dan kembang api. Itu belum yang dikuras dari APBD oleh pemimpin-pemimpin daerah, yang artinya mereka membakar uang yang disedot dari rakyat dengan meninggikan pajak dan sebagainya.
Membakar uang berupa mercon dan kembang api itu sendiri telah dikecam oleh Allah Ta’ala dan Rasu-Nya:
وَآَتِ ذَا الْقُرْبَى حَقَّهُ وَالْمِسْكِينَ وَابْنَ السَّبِيلِ وَلَا تُبَذِّرْ تَبْذِيرًا (26) إِنَّ الْمُبَذِّرِينَ كَانُوا إِخْوَانَ الشَّيَاطِينِ وَكَانَ الشَّيْطَانُ لِرَبِّهِ كَفُورًا [الإسراء/26، 27]
“Dan berikanlah kepada keluarga-keluarga yang dekat akan haknya, kepada orang miskin dan orang yang dalam perjalanan dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros. Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara syaitan dan syaitan itu adalah sangat ingkar kepada Tuhannya.” (QS Al-Israa’ [17] : 26-27)
Betapa senangnya seandainya duit 50 ribu rupiah atau 30 ribu rupiah itu disedekahkan kepada kerabat yang kekurangan atau orang miskin sekitar kita. Pahala dapat, hubungan kemanusiaan pun tambah baik, insya Allah. Tetapi dengan dibakar seperti itu, maka uang musnah tanpa guna, dosa pun menghadangnya serta syaitan pun menjadi temannya. Betapa ruginya.
Makanya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memperingatkan:
« إِنَّ اللَّهَ كَرِهَ لَكُمْ ثَلاَثًا قِيلَ وَقَالَ وَإِضَاعَةَ الْمَالِ وَكَثْرَةَ السُّؤَالِ ».
“Sesungguhnya Allah membenci kepada kalian tiga perkara: berdesas-desus (merumpi/ gossip), menghamburkan harta, dan banyak bertanya.” (HR. Muttafaq ‘alaih) .
Menghamburkan harta yaitu menggunakannya dalam kemaksiatan atau menggunakan harta dalam hal-hal yang mubah (boleh) tapi secara menghamburkan atau boros.
Jadi hura-hura merayakan tahun baru dengan membakar petasan, kembang api, joget-jogat dan sebagainya itu jelas telah banyak ruginya dan dibenci Allah Ta’ala. Masih pula ditambah lagi bahwa semua itu karena mengikuti orang kafir. Ini menambah pula kebencian Allah Ta’la tentu saja.
Dan masih pula, bagaimana kewajiban-kewajiban mereka terhadap Allah Ta’ala? Ketika mereka berjejal di jalanan Puncak dalam keadaan macet penuh kendaraan, juga yang ke Ancol dan sebagainya, mereka rata-rata dapat diperkirakan, berangkatnya ashar. Lalu di mana mereka shalat maghrib? Dan apakah mereka tidak sayang terhadap dirinya, terjebak dalam kesulitan sekaligus meninggalkan kewajiban shalat?
Aneka kerugian lahir maupun batin, materi maupun rohani ternyata kalau ditotal benar-benar sangat rugi. Masih pula menimbulkan dosa.
Wanita-Wanita Muslimah Turut Merayakan
Sebagian besar penduduk Indonesia adalah wanita dan mayoritas muslimah. Tetapi sayang, karena panduan sehari-harinya adalah televisi yang memang gencar mempromosikan perayaan malam tahun baru dari tahun ke tahun, maka hasilnya bisa terlihat sekarang.
Wanita-wanita muda muslimah, ibu-ibu muda dan yang tua antusias menjadi salah satu pendukung besar suksesnya perayaan tahun baru.
Betapa tidak. Mulai dari ibu-ibu yang tua tanpa tahu apa manfaatnya, tanpa tahu apa hukumnya, dengan kesadarannya, mereka menyediakan fasilitas-fasilitas yang mendukung guna merayakan tahun baru.
Dukungan pertama : Ibu-ibu dengan ringannya membelikan anak-anaknya terompet atau petasan dan kembang api untuk saat malam pergantian tahun, benda itu digunakan. Mereka tidak tahu dan mungkin memang tidak mau tahu ada peringatan dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam:
صَوْتَانِ مَلْعُونَانِ في الدُّنْيا وَالآخِرَةِ مِزْمَارٌ عِنْدَ نِعْمَةٍ وَرَنَّةٌ عِنْدَ مُصِيبَةٍ (رواه البزار عن أنس بإسناد صحيح)
Dua suara yang dilaknat di dunia dan akherat: (suara tiupan) seruling ketika (sedang) nikmat (senang) dan (suara jeritan) ratapan ketika musibah. (HR. Al-Bazzar dan Dhiya’ Al-Maqdisi dari Anas dengan sanad shahih, dishahihkan Al-Albani dalam Al-Jami’ As-Shaghir nomor 3801).
Yang namanya terompet tentu saja termasuk dalam kategori mizmar (seruling) yang suaranya dilaknat itu. Karena lonceng atau kelinting saja dalam hadits dimasukkan dalam jenis mizmar (seruling) yang suaranya dilaknat itu.
Hingga dalam Kitab Riyadhus Shalihin, Imam Nawawi menegaskan agar hewan ternak Muslimin jangan dikalungi jaros, klinting atau lonceng. Hewan saja agar tidak dikalungi jaros agar tidak timbul bunyi yang dilaknat, lha ini malah anak-anak dibekali uang untuk beli terompet untuk mempekerjakan mulutnya agar mengeluarkan bunyi yang dilaknat, di hari rayanya orang kafir lagi. Betapa terbalik-baliknya keadaan buruk ini.
Dukungan kedua: Menyediakan sarana untuk membakar ayam atau ikan atau jagung untuk dinikmati pada malam pergantian tahun.
Dukungan ketiga: Menyediakan kendaraan untuk keluarga atau anak-anaknya pergi ke berbagai tempat untuk menikmati malam pergantian tahun.
Dukungan keempat: Dirinya dan uangnya ikut serta merayakan malam pergantian tahun dengan beragam antusiasnya ibu-ibu.
Dari antusias ibu-ibu muslimah ini lah akhirnya berjuta muslim muslimah turut larut merayakan tahun baru yang sedianya adalah perayaan natalnya umat nasrani yang memang ada golongan nasrani yang merayakan natalnya tanggal satu Januari.
Betapa tertipunya para wanita muslimah ini, selama ini digembar-gemborkan oleh media televisi yang mempromosikan acara-acara yang begitu menarik perhatian wanita-wanita muslimah tentang perayaan tahun baru ini.
Betapa tertipunya. Wanita-wanita muslimah ini telah jadi sasaran empuk, agar supaya ikut larut merayakan tahun baru tanpa sadar bahwa itu rencana Yahudi dan Nasrani yang saling bahu membahu untuk menarik wanita-wanita muslimah secara halus dan manis, agar tak kentara mereka dijadikan sasarannya.
Dan tahun ini, sukses besar diraih oleh Yahudi dan Nasrani dalam menjebloskan wanita-wanita muslimah turut larut dengan gembira ria, tawa gembira, bersorak ria merayakan tahun baru 2011. Mereka terpedaya! Tapi anehnya, mereka bangga dan tertawa-tawa. Betapa tertipunya!
Mungkin awalnya hanya berfikir bahwa ikut merayakan tahun baru adalah gaya hidup yang modern. Toh buktinya televisi-televisi terus mengulas dari berbagai versi dan dikemas semenarik dan semanis mungkin tentang acara- acara memperingati tahun baru.
Maka kemudian dengan lapang hati dan sadar akhirnya para wanita muslimah Indonesia merayakan dengan penuh kegembiraan melebihi kegembiraan saat hari raya Idul Fithri. Padahal justru Idul Fithri itu perayaan Ummat Islam sedunia benar-benar. Dan ketika merayakannya sesuai tuntunan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam serta ikhlas lillahi Ta’ala maka insya Allah mendapatkan pahala, di samping gembira.
Tentu akan beda perasaan. Jika hari raya Idul Fithri hati penuh rasa takwa kepada ALLAH, penuh rasa syukur dan kegembiraan yang ikhlas menuju kemenangan setelah sebulan berpuasa.
Tetapi untuk perayaan tahun baru tentu lain lagi walaupun kegembiraan itu melebihi kegembiraan saat Idul Fithri, karena hakekatnya kegembiraan itu semu belaka. Dan jika alasannya bersyukur, bersyukur untuk apa?
Kemudian setelah berlalunya waktu, hanya penyesalan yang tersisa. Penyesalan karena waktu terbuang percuma, lantaran tidak jelas sama sekali: Untuk apa dan untuk siapa tahun baru itu dirayakan? Penyesalan karena hitungannya sejumlah uang ternyata sudah terbuang sia-sia. Padahal urusan rumah tangganya belum tertutupi. Dan penyesalan-penyesalan lainnya.
Wanita muslimah sesungguhnya telah tertipu dan terjebak oleh promosi-promosi manis yang dilayangkan kaum kafirin Yahudi dan Nasrani serta antek-anteknya lewat acara-acara televisi yang begitu menarik dan sepertinya untuk suatu gaya hidup yang modern.
Padahal di dalamnya ajakan dan jebakan mereka yakni musuh-musuh Islam yang memang tidak akan ridho kepada umat Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam sampai kita mau mengikuti agama mereka. Seperti yang sudah di peringatkan dalam Al-Qur’an, yang berbunyi:
وَلَنْ تَرْضَى عَنْكَ الْيَهُودُ وَلَا النَّصَارَى حَتَّى تَتَّبِعَ مِلَّتَهُمْ قُلْ إِنَّ هُدَى اللَّهِ هُوَ الْهُدَى وَلَئِنِ اتَّبَعْتَ أَهْوَاءَهُمْ بَعْدَ الَّذِي جَاءَكَ مِنَ الْعِلْمِ مَا لَكَ مِنَ اللَّهِ مِنْ وَلِيٍّ وَلَا نَصِيرٍ [البقرة/120]
“Dan orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan ridho kepada kamu (Muhammad) hingga kamu mengikuti agama mereka. Katakanlah, ‘Sesungguhnya petunjuk ALLAH itulah petunjuk (yang benar).’ Dan sesungguhnya jika engkau mengikuti keinginan mereka setelah ilmu (kebenaran) datang kepadamu, maka tidak akan ada bagimu pelindung dan penolong dari ALLAH.” (QS. Al-Baqarah [2] : 120)
Jika wanita-wanita muslimah mau memperhatikan, merenungi, mengamalkan ayat ini tentulah akan tahu bahwa merayakan tahun baru bukan lah gaya hidup modern. Tetapi merayakan tahun baru adalah ajakan dan jebakan kaum Yahudi dan Nasrani untuk para wanita muslimah yang apa lagi mayoritas ada di Indonesia.
Tetapi sayang seribu kali sayang wanita muslimah Indonesia telah menjadi tumbalnya. Dan setelah itu dengan gampang digaraplah anak-anak dan keturunannya. Apakah kenyataan ini dianggap sepele?
Tentu hal ini bukan urusan yang sepele. Karena ALLAH telah menperingatkan “Dan sesungguhnya jika engkau mengikuti keinginan mereka setelah ilmu (kebenaran) datang kepadamu, maka tidak akan ada bagimu pelindung dan penolong dari ALLAH.” (QS. Al-Baqarah [2] : 120)
Jadi untuk siapa perayaan tahun baru itu? Untuk apa ikut-ikutan merayakannya? Padahal ALLAH sendiri tidak akan melindungi dan tidak akan menolong bagi para pengikut keinginan mereka.
Siapa mereka itu? Yaitu kaum kafirin Yahudi dan Nasrani. Dan bukankah telah begitu banyak muslim dan muslimah yang mengikuti mereka? Sangat mencekam!

http://www.eramuslim.com/berita/analisa/untuk-apa-acara-tahun-baru-diadakan.htm#.UsLQbCeueZA

Senin, 30 Desember 2013

Ibumu Kunci Kesuksesanmu

Ibu adalah orang yang mengandung dan melahirkan kita. Itulah mengapa kedudukan seorang ibu begitu tinggi di sisi Allah. Meskipun tidak terlepas dari peran seorang ayah namun ibu lah yang lebih mengetahui tentang anaknya karena ibu yang mengandung, melahirkan, dan menyusui serta merawat anaknya hingga dewasa. Karena itu lah hubungan ibu dengan anak jauh lebih kuat daripada dengan ayah.

Allah SWT Berfirman :

“Janganlah kamu menyembah selain Allah, dan berbuat baiklah kepada ibu ayah dengan sebaik-baiknya.” (QS. Al-Baqarah : 83)

Dijelaskan dalam ayat diatas bahwa perintah berbuat baik kepada ayah dan ibu sejajar dengan perintah mengesakan Allah SWT. Ini adalah kedudukan tertinggi yang diberikan Allah kepada manusia, dimana anak harus berbakti kepada orang tua mereka. Berbakti kepada orang tua adalah hal utama selain menyembah Allah semata. Sebagai anak, sudah menjadi kewajiban kita untuk mendahulukan kepentingan kedua orang tua kita.

Rasa sayang seorang ibu kepada anaknya sangatlah besar melebihi kasih sayang siapapun. Hal ini yang menyebabkan hubungan batin seorang ibu dengan anaknya sangat kuat. Ketika anaknya sedang merasa kesulitan ibu pun juga ikut merasakan kesulitan itu. Ketika anaknya sedang bekerja atau belajar doa sang ibu selalu menyertainya. Doa seorang ibu sangatlah dahsyat sama seperti doa seorang nabi kepada umatnya. 

Rasulullah SAW bersabda :
Doa orang tua untuk anaknya sama seperti doa nabi terhadap umatnya.” (HR. Ad Dailami)

Persamaan doa ibu dengan nabi terletak pada kemustajabannya. Setiap nabi pasti berdoa untuk keselamatan umatnya. Sedangkan seorang ibu berdoa untuk keselamatan anaknya. Doa ibu adalah berkah untuk kesuksesan dunia dan akhirat anaknya.

Sebaliknya, bila perasaan seorang ibu tersakiti oleh kedurhakaan anaknya maka siksaan Allah akan segera datang. Bahkan ketika doa itu diucapkan maka akan langsung terkabulkan. Seperti dalam dongeng Malin Kundang yang dikutuk menjadi batu oleh ibunya.

Perjuangan seorang ibu untuk mendidik anaknya sangatlah berat. Butuh perjuangan sangat panjang untuk membentuk anak yang kuat dan berbakti. Dengan kasih sayangnya ibu akan menanamkan nilai-nilai kebaikan kepada anaknya sejak dini. Dan seorang ibu akan selalu hadir memotivasi kita ketika sedang merasa putus asa dan dalam kesulitan. Kesuksesan seorang anak tidak terlepas dari peran serta ayah dan ibu mereka.

Kenapa Begitu Takut dengan “Kiamat”?

dakwatuna.com 

Kiki: Mbak, salju turun di Arab yo?
Ana: oh iya
Kiki: itu benar-benar tanda-tanda kiamat ta mbak?
Ana: saya belum sempat baca beritanya ki, cuman lihat judulnya tadi di dakwatuna tapi belum sempat baca karena banyak kerjaan. Ya, mungkin aja ki. Secara itu daerah gurun pasir e….
Riris: Iya mbak dan ternyata Rasulullah sudah bersabda sebelumnya ya? Ih benar-benar Kiamat sudah dekat yo?? (Memandang kami sambil menuggetarkan bahunya sendiri)
Ana:  (tersenyum karena memang saya belum pernah membaca hal tersebut dan belum tahu tentang Sabda Rasulullah tersebut).
Owalah ris, sekarang lo kalau bicara tentang tanda hari kiamat, sudah terlalu banyak cuman kita aja yang gak memperhatikan. Dulu ada bapak tiri yang memperkosa anak tirinya, kita pikir mungkin karena bukan anak kandungnya, eh skarang malah sudah ada bapak memperkosa anak kandung sendiri.
Riris: bener mbak, bener. Saya pernah baca beritanya.
Ana: trus ada adek yang memperkosa kakaknya sendiri. Kalau itu dipikir secara logika dan prasaan juga pastinya. Itu kan gak mungkin. Makanya kalau depan saudara sendiri walaupun muhrim, jangan memakai pakaian yang terlalu seksi. Kasian.
Kiki: jadi kiamat sudah dekat ya mbak?
Ana: kan memang sudah banyak to tanda-tandanya. Cuman perhitungan “dekat”nya ini kan kita gak tahu. Perbedaan waktu di akhirat dan dunia kan juga sangat jauh berbeda.
Riris: iyo yo, dari dulu lo orang-orang bilang kiamat sudah dekat, bahkan dikatakan sudah dekat saat Rasulullah pertama kali muncul.
(Saya hanya bisa tersenyum mendengarkan karena saya sendiri tidak tahu bahkan sempat berfikir bahwa teman saya ini Sokta (Sok Tahu) he…, Astaghfirullah)
Riris: kita pake pakaian ketat gini yo juga tanda-tanda kiamat kiki….
(Saya hanya tersenyum melihat dan mendengarkan mereka)
Itu adalah sebuah perbincangan yang terjadi di kantor saya saat istirahat. Cukup seru perbincangan kami ketika itu tapi kurang lebih seperti itulah sebagian isi perbincangan kami di istirahat yang cukup singkat itu. Setelah jam istirahat selesai, saya pun membaca artikel tersebut di dakwatuna ini. Sebenarnya, bagi saya pribadi. Hal tersebut bukanlah suatu yang “WAH”, dalam artian bukan suatu berita yang meng”heran”kan. Karena bagi saya, sudah terlalu banyak kejadian di dunia ini khususnya di negri kita tercinta ini yang membuat saya selalu bertanya-tanya pada diri saya sendiri “Kok bisa gitu ya? Kenapa bisa terjadi seperti itu?”Dan pertanyaan-pertanyaan seperti itu berakhir dengan “Istighfar”. Ketika dulu, ada seorang bapak yang pemabuk dan kerjanya judi aja. Itu hanya saya baca di novel dan sekarang itu terjadi di dunia nyata. Tentang kasus pembunuhan antara teman sendiri, dulu hanya ada di film tapi skarang sudah banyak kasus tersebut di dunia nyata dengan segala macam bentuknya dan yang paling “sadis” menurut saya adalah kasus “mutilasi”. Ketika mendengar kata “mutilasi”, saya langsung merinding. Pertama mendengar berita itu dan tahu maksudnya. Saya tidak pernah membayangkan seseorang bisa melakukan itu. “Bagaimana dia bisa memotong-motong tubuh seseorang? Bagaimana perasaannya saat melakukan itu? Apa yang dia pikirkan?” Dan untuk mengakhiri itu, saya hanya bisa istighfar dan berfikir “apa sih yang tidak bisa di dunia ini?” Astaghfirullah…kemudian ada seorang cucu yang membunuh neneknya hanya karena dilarang keluar malam (kalau tidak salah ingat itu penyebabnya), dan masih banyak lagi kejadian-kejadian di luar logika yang telah terjadi di dunia ini. Belum kasus seseorang yang berubah jadi binatang dsb. Mungkin pembaca juga punya se”gudang” kisah nyata yang tidak masuk akal yang pembaca ketahui.
Kembali pada perbincangan di atas. Setelah perbincangan dengan teman-teman dan membaca berita tersebut kemudian merenungi semua yang saya paparkan tersebut di atas. Saya pun berpikir dan berkata dalam hati “ternyata mereka takut dengan kiamat??” Saya bukannya tidak takut sama kiamat, saya sangat takut malah tentang hari Kiamat. Siapa yang tidak takut sama kiamat? Semuanya pasti “takut”. Hanya saja, yang menarik perhatian saya adalah. Kenapa kita sangat takut dengan hari Kiamat?? Sesuatu yang pasti terjadi tapi kejadiannya kita juga belum tahu apakah kiamat itu terjadi pada saat kita masih hidup di dunia ini atau sudah tidak? Kenapa kita sibuk memikirkan itu?? Sebenarnya sangat bagus memikirkan hal tersebut, tapi kenapa kita tidak memikirkan tentang “kiamat” kita sendiri yaitu kematian. Sesuatu yang pasti terjadi dan pasti terjadi pada diri kita sendiri dan terjadi pada setiap orang. Bukankah itu yang harus selalu kita ingat?? “Hari kiamat” memiliki banyak tanda-tanda tapi kematian seseorang, apakah punya tanda-tanda? Bahkan kalaupun ada (katanya), biasanya orang-orang membicarakannya setelah seseorang tersebut mati. Bukan sebelum orang tersebut masih hidup. Apa gunanya? Orang sakit bisa saja umurnya lebih panjang dibandingkan dengan orang sehat. Hari ini kita bisa makan, membaca tapi tidak ada yang bisa menjamin kita bisa melakukannya besok bahkan nanti malam. Dokter memvonis umur seseorang yang punya penyakit hanya 3 bulan, tapi ternyata ada yang bisa melalui itu. Seseorang yang baru saja kita temui hari ini dengan sehat bugarnya, ternyata esok hari ada berita bahwa dia telah meninggal. Pernahkah kita berfikir bahwa bisa saja itu terjadi pada kita. Hari ini kita masih bisa berbincang-bincang dengan teman kantor kita tapi mungkin saja besok mereka akan mendengar tentang “kematian” kita. Hal itu bisa saja terjadi kan?? Jadi maksud dari tulisan saya ini adalah… mari kita mengambil pelajaran dan hikmah dari semua kejadian yang terjadi. Tanda-tanda “Hari Kiamat” sudah terlalu banyak jadi mari kita renungi hal tersebut dan yang lebih penting lagi adalah. Setiap orang memiliki “hari kiamat”nya sendiri yang pasti akan dialami pada diri masing-masing. Ketika “Hari Kiamat” itu dialami oleh sebagian orang, tapi kematian seseorang pasti akan terjadi dan dialami oleh semua orang. Mungkin itu yang ingin saya sampaikan sebagai Pengingat khususnya untuk Ana pribadi. Seperti firman Allah SWT berikut ini:
“Setiap jiwa pasti akan mengalami kematian, dan kelak pada hari kiamat saja lah balasan atas pahalamu akan disempurnakan, barang siapa yang dijauhkan oleh Allah Ta’ala dari neraka dan dimasukkan oleh Allah Ta’ala ke dalam surga, sungguh dia adalah orang yang beruntung (sukses).” (QS. Ali Imran: 185)
“Dan bagi tiap-tiap jiwa sudah ditetapkan waktu (kematiannya), jika telah tiba waktu kematian, tidak akan bisa mereka mengundurkannya ataupun mempercepat, meskipun hanya sesaat”. (QS. Al A’raf:34)
Oh iya, pernah ada pesan dari seorang teman kepada saya. Kurang lebih seperti ini pesannya “Kesadaran tanpa aksi itu tidak ada gunanya”. Jadi, ketika kita sudah merenungi dan sadar akan hal tersebut tapi tetap tidak ada perubahan pada diri kita. Dalam artian tidak ada perubahan kebaikan pada diri kita dan tidak ada upaya untuk memperbanyak “bekal” kita untuk menghadapi hari itu, maka itu tidak ada artinya. Wallahu’alam.
 

Rindu Ibuku Tercinta

dakwatuna.com


Rindu yang begitu amat dalam
Tak ada yang mampu mengobati rasa rinduku padamu
Aku selalu dan selalu rindu padamu
Ohhh Ibuku….
Maafkan anakmu belum mampu membahagiakanmu
Hingga kau pergi untuk selama-lamanya
Namun ku selalu memohon kepada-Nya
Agar aku tetap bisa menjadi anak yang berbakti
Walau kini kau sudah tiada
Hanya doa yang selalu terucap di setiap nafasku untukmu
Ya Rabbku, ampunkanlah dan bahagiakanlah untuk ibuku tercinta
Dan izinkan ku dapat berjumpa lagi dengan ibuku
di surga-Mu yang indah
Agar ku dapat memeluknya lagi,
menciumnya dan bercanda lagi dengannya…
Ohhh ibu… sungguh aku rindu padamu…

 Redaktur: Hendra

Minggu, 29 Desember 2013

Saat yang Lain Berpesta, Pesepakbola Muslim ini Memilih Umrah

dakwatuna.com – Riyadh.


 Di saat pesepakbola lain memilih berpesta untuk mempersiapkan libur tahun baru, sejumlah pesepakbola dunia beragama Muslim memilih untuk melaksanakan “umrah bareng” ke Tenah Suci, Mekkah.
Kegiatan “umrah bareng” ini melibatkan sejumlah pesepakbola dunia yang merumput di Eropa dan Asia. Mereka ikut dalam rombongan umrah “bareng” itu adalah Frederic Kanoute, Abou Diaby, dan Mohamed Sissoko.
Kanoute yang saat ini merumput di Liga Cina dalam akun Twitternya mengungkapkan kebahagiaannya bisa umrah di tengah libur kompetisi. Kegiatan umrah itu dilakukan disela laga amal bertajuk Rofaqa Project dalam rangka membantu anak miskin di Afrika. “Memulai umrah kemudian menuju laga Rofaqa Project,” tulis Kanoute dalam akun Twitternya.
Selama ini, Kaoute dikenal sebagai muslim yang taat. Saat masih merumput di Liga Spanyol, dia sempat menyelamatkan sebuah masjid di Sevilla yang nyaris dijual karena kehabisan dana. Dia pun pernah menolak mengenakan seragam timnya yang memiliki sponsor rumah judi.
Dalam umrah di penghujung tahun ini, Kanoute turut ditemani gelandang Arsenal Abou Diaby dan mantan pemain Juventus, Mohamed Sissoko.
Sementara itu gelandang Arsenal Abou Diaby ikut memposting fotonya bersama pesepakbola dunia lain yang ikut dalam kegiatan “umrah bareng”. Dalam foto itu ikut serta gelandang Senegal yang merumput di Liga China, Jaques Faty.
Dalam foto itu, keempat pesepakbola dunia tampak memakai baju ihram. Diaby yang berada di posisi paling kiri tampak memegang buku kecil. Tepat di samping Diaby, ada Faty yang membawa tasbih berwarna putih. Sedangkan mantan gelandang Juventus Mohamed Sissoko ada di posisi paling kanan. (rol/sbb/dakwatuna)

Redaktur: Samin